Top Stories

Masalah Islam

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasarkandata dan masalah yang benar-benar memerlukan jawabandemi maslahat Islam Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasarkandata dan masalah yang benar-benar memerlukan jawabandemi maslahat Islam Saat mulai membaca karya Prof Dr Syahrin Harahap, MA, Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna (April 2016), saya langsung berpikir sesuatu yang saya anggap sangat mendasar. Yakni kadar keterterimaan Islam sebagai jalan hidup bagi orang yang mengaku dirinya sebagai Muslim atau di luarnya, beserta segenap konsekuensinya. slam bukan menjadi jalan hidup bagi penganutnya saja ,tetapi juga menyelamatkan seluruhnya, sebagaimana secara propagandis sering diwartakan dengan terminologi rahmatanlil-alamin. Saya juga sangat menyadari bahwa soal kesalah fahaman terhadap Islam adalah cerita lama saja yang terus-menerus diperbaharui oleh bukan hanya orang, tetapi kekuatan media yang menopang pekerjaan khusus dari pihak anti Islam (Kutub, 1964; Mohammad,1996). Hasil dan dampaknya berbeda berdasarkan sasarannya, Muslim dan non muslim. Saya sama sekali tidak pernah cemas akan lebih banyak orang murtad dari Islam (Helmidjas, 2013) dengan pemahaman yang baik terhadap agama lama dan agama barunya secara komparatif. Saya hanya cemas jika makin banyak terbawa nasib yang tak terperbaiki oleh sistem sehingga secara terpaksa murtad mengikuti kelicikan petugas-petugas agama lain (Miller, 2015). Perang yang dirancang dan digencarkan seolah lebih manusiawi dan bermartabat ini saya yakin berlangsung terus sangat serius, dan kiranya tak dapat dilawan kecuali hanya dengan cara atau perang yang mereka inginkan sendiri. Tak Sekadar Takdir Merenungi QS at-Taubah : 32, sesekali saya jatuh pada pemahaman apologetik,bahwa Allah menjaga Islam sampai akhir zaman. Bukan dakwah yang serius, yang menyamai kecanggihan propaganda agama lain dan dengan segenap kolaborasinya, yang membuat trend populasi dunia dan kualitas kemusliman yang semakin baik. Saya yakin tak sedikit orang berpikir seperti ini sambil diam tak memiliki gagasan penyelamatan warga Muslim yang dijerat kemiskinan dihampir semua desa tertinggal dan di semua kota besar yang beringas menindih dan meluluhlantakkan orang Muslim miskin demi satu kata “pembangunan”. Saya curiga ini bukan hanya apologi semata. Boleh jadi sudah berubah menjadi penyakit khas orang-orang kalah dengan beban ganda yang bertambah setiap hari. Bayangkanlah, bagaimana gerangan orang yang akut menderita penyakit khas ini akan memikirkan kemiskinan sendiri (negeri sendiri) dan kemungkinan ide apa yang akan dia berikan seketika menyadari fakta betapa buruknya perlakuan China terhadap Muslim Uyghur, jenis kejahatan di Filipina terhadap muslim Moro, corak kebrutalan Thailand terhadap Muslim Pattani, model kesadisan para Biksu di bawah kendali Ashin Wirathu yang berselera keras membunuh Muslim Rohingya, Palestina yang tak tentu nasib, dan lain sebagainya. Bagaimana orang dengan penyakit khas ini memikirkan kegesitan sikap negara besaryang mendikte Indonesia dalam kebijakan Global War on Terrorism yang kejam itu sedangkan ia jauh dari bersintuhan sistem nasional negaranya dan sistem internasional dan menyuarakannya secara lantang dalam protes keras di lembaga dunia seperti PBB. Padahal di depan hidungnya ada masalah yang tampak remeh tetapi sangat krusial. Misalnya rencana pendirian masjid Raya di Sarulla, Tapanuli Utara yang disandera begitu lama untuk tidak boleh berdiri, atau pengembalian masjid yang diruntuhkan secara kejam oleh para pengembang di kota besar seperti Medan. Orang dengan penyakit khas ini sangat bermasalah dalam peta kosmologi, untuk tidak mengatakannya tak memiliki peta kosmologi yang jelas. Sanggupkah ia memilah masalah untuk secara simultan memikirkan perlawanan atas brutalitas kapitalisme dan kekejakan neoliberalisme pengelolaan negara yang semakin kejam sambil meneteskan airmatanya (berkorban) untuk perubahan sikap terhadap orang miskin yang jangankan dibayangkan untuk mampu membayar iyuran BPJS bahkan untuk ditampung negara dalam catatan penduduk saja tidak dapat dipastikan. Orang-orang dengan penyakit khas ini akan sangat menderita memilih atau mengorganisasikan masalah dalam benaknya untuk membuat segalanya itu berada tak lagi jelas di luar jangkauannya baik oleh pembayangan maupun oleh penyikapan, apalagi tindakan efektif. Mestinya dia harus percaya bahwa tuhannya menurunkan Adam bukan sendirian selamanya sebagai khalifah dengan keabadiannya pula. Tetapi memerlukan penerusan misi risalah, moral dan tata hidup keagamaan kesejagatan. Menelaah daftar isi buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna, saya teringat data kesejagatan yang dikonstruk kekuatan moral intelektual dunia dengan segenap maksud dan tujuannya. Ini sebuah contoh saja. Bahwa mengiringi terus gencarnya pemberitaan tentang kelompok militan ISIS dan pengungsi Syria serta perselisihan sengit lainnya yang terus terjadi di Timur Tengah. Tahun lalu saya teringat Pew Research Centre (PRC) yang mewartakan tajamnya keterbelahan pandangan Muslim tentang hubungan yang seharusnya antara ajaran Islam dan hukum positif (2015). Ternyata di 10 negara dengan populasi Muslim signifikan, terdapat perbedaan mencolok meyakini sejauh mana orang berpikir Alquran harus memengaruhi hukum. Pendidikan Agama Dari telaahan halaman buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna, saya ingin berkata kepadanya bahwa temuan survei PRC itu juga menjelaskan umumnya orang lebih berpendidikan (makin tinggi) cenderung berpendapat sekularistik: hukum tidak harus mengikuti Alquran. Saya ingin beritahu sesuatu yang saya yakin diketahui juga oleh Prof Dr Syahrin, MA, bahwa sebagian mereka tidak percaya nilai compabilitas (kesesuaian) Alquran dengan tuntutan dan kompleksitas dunia modern. Agama adalah agama, sesuatu yang domainnya pada hubungan hamba tuhan dan peribadatan, titik di situ. Sedangkan hukum, ekonomi, politik dan lainnya bukan urusan agama dan aneh jika mesti dikaitkan dengan Alquran. Di Nigeria misalnya, 48 persen sample berpendidikan menengah atau lebih mengatakan Alquran tidak harus memengaruhi hukum, dibandingkan 29 persen diantaranya yang hanya sempat mengenyam pendidikan menengah ke bawah. PRC tidak mengeksplorasi memuaskan mengapa di banyak negara berpenduduk Muslim signifikan seperti itu menguat perbedaan pendapat tentang masalah ini. Di Pakistan, wilayah Palestina, Yordania, Malaysia dan Senegal, setengah atau lebih dari populasi mengatakan hukum di negara mereka harus  ketat mengikuti Alquran. Tetapi tidak di Indonesia, Burkina Faso, Turki dan Lebanon. Ini tidak dapat dijelaskan sama sekali dengan hanya menyebutnya sebagai gejala yang mengiringi meningkatnya pendidikan. Apalagi dengan hanya menyebut bukti bahwa di Nigeria 42 persen Muslim berpikir hukum seharusnya tidak dipengaruhi Alquran, sedangkan 27 persen lainnya menganggap sebaliknya. Jika PRC bersedia, dan ini baik untuk semua, seharusnya survei dilakukan menyeluruh dengan melepaskan batas teritorial (negara dan kawasan). Mereka harus menyamakan semua orang untuk dimintai pendapat tentang masalah ini, termasuk Muslim di negara maju (Amerika, Inggris, Jerman,Prancis dan lain-lain). Sebagai reaksi final setelah membaca halaman terakhir buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” saya segera ingin meng-jak Prof Dr Syahrin Harahap, MA untuk menegaskan sikap bersama. Bahwa penjauhan diri dari agama dengan pemilahan yang sangat sekularistik yang terjadi di sini adalah masalah mendasar yang awalnya ada pada pendidikan kita. Ada tautan kuat yang sengaja diputus antara agama dan ilmu, dan sejarah harus kita perbaiki lagi dengan kritis. Kapitalisme berperan penting di sini, dan untuk Indonesia masalahnya sangat kompleks dengan kesenjangan sangat parah berkat peran istimewa dan sangat dominan minoritas suku bangsa China. Mendapatkan gambaran baru untuk design masa depan tidak berhenti pada kosademi kosa kata serta forum demi forum yang tak membumi ke relung kehidupan si Samindan di Ulong. Mungkin Prof Dr Moshe Sharon (2013) harus didengarkan berulang-ulang, bahwa pilihan kosa kata dan diksi di dunia lain, semaju apa pun dan seberwibawa apapun itu dipandang, tidaklah sesuatu yang serta merta kita perlukan di dunia kita. Kita harus melawan. Karena mereka telah mengisi semua itu bukan hanya dengan persepsi, tetapi dengan nilai kaku khas subjektif mereka yang tak mungkin berdamai dengan kehidupan kita. Saya ingin menawarkan satu hal, dan inisaya tegaskan sebagai sesuatu yang berada jauh di luar buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna. Seberapa seriuskah kita mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu turunannya serta ilmu lain yang harus ditundukkan kepadanya kepada generasi kita. Pertanyaanya bisa juga masuk ke kebijakan, berapa jumlah kitab suci Alquran yang diproduksi dan sudahkah sesuai jumlah keluarga dan orang yang secara resmi dinyatakan sebagai Muslim. Siapakah guru yang mengasuh jamaah, seberapa faham ia akan fungsi dan informasi Alquran. Adakah mereka pemeran kaku sistem kependetaan dalam tradisi Roma yang tak perlu bersintuhan secara interaktif dengan umat mayoritas. Karena lebih menikmati keartisan dalam promosi agama sebagai komoditi yang ditopang oleh hegemoni media, sesuatu tentang guru-guru ini harus direformasi. Ketegangan hubungan antar kelas dalam khazanah pengajaran Islam sudah lama menjadi masalah. Orang di atas menikmati kelasnya dengan kehangatan perlakuan negara, sedangkan orang di bawah menjalani misi dengan penuh keluhan. Sayangnya orang di atas dan orang di bawah saling merasa sangat yakin memaknai posisinya sebagai penuh ridho dari ilahi. Keduanya harus dibawa ke zona perdamaian.  Penutup Meski tak membuat judul pembahasan khusus, buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna mengandung semangat modernitas, dan saya kira itulah tawaran diarus utamakan buku ini. Saya yakin hanya soal pilihan taktis agar tak dituduh anti peradaban universal dan incompabilitas dengan dunia modern. Ketika membahas konsep Islam rahmatanlil’alamin, misalnya, terasa perlu keluar dari tafsir yang dikonstruk oleh kekuatan campuran (baik yang menginginkan Islam sebagai jalan hidup maupun yang menginginkan sebaliknya atau yang berada di antara keduanya). Islam itu tak benar diterjemahkan satu sisi dari yang dipentingkan dalam urgensi yang sesaat. Memberi tafsir tunggal tentang jihad, ini sebuah contoh paling populer, sebagai perang berdarah, sebagaimana diinginkan kekuatan dunia yang kini bekerja keras menggerakkan Global War on Terrorism dengan agenda tersembunyinya, jelas harus ditolak. Begitu juga tentang ungkapan yang makin ditakuti umat Islam sendiri seperti fundamentalisme, radikalisme dan lainnya. Adalah benar Islam agama damai. Tetapi bagaimana menjelaskan sekian banyak perang yang langsung dipimpin Rasulullah Muhammad SAW (Al-Baqarah Ayat 190 dan Al-AnfaalAyat 61) ? Itu bukan ekspresi dan implementasi konsep rahmatan lil alamin? House of Salam, kata Prof Moshe Sharon (2003), adalah konsep abadi yang tidak tunduk kepada konsep apa pun meski akan dianggap illegal oleh sistem yang ada. Damai? Ya Islam sangat siap menjadi prakarsawan untuk itu. Perang? Agama ini bukan agama perang, tetapi tak mungkin tak berperang dengan segenap tantangan dan ancaman yang dihadapinya. Karena itulah, mungkin cukup sulit disepakati di antara pemikir Islam, seruan yang diikuti dengan sikap yang benar untuk memaksa kekuatan dunia agar ketidakdilan dan kemiskinan tidak diabadikan. Hentikan Global War on Terrorism itu, karena anak-anak yang sedang belajar mengeja namanya sendiri pun kini sudah tahu agendanya yang membahayakan eksistensi kemanusiaan global. Saya merasakan buku Prof Dr Syahrin Harahap, MA berusaha memberi perhatia nyang mencerahan di sekitar itu. Ke depan,saya ingin menyarankan kolega saya inimembuat peta kajian baru berdasarkan hipotesis yang dibangun berdasarkan data dan bpermasalahan yang memang benar-benar memerlukan jawaban demi maslahat Islam.  

Ide Dalam Pembangunan
Kartini: Kontroversi Vs Emansipasi
Inflasi Di Balik Kebijakan
Tembakau Deli, Dulu Hingga Kini

Opini

Buruh(Ku), Buruh(Mu), & Buruh(Kita)?

Minimnya peran negara sebatas sebagai pengatur berdampak pada pengabaian kesejahteraan rakyat ...

Fadhil Lubis Dan Hukum Islam

Dalam berbagai diskusi hukum Islam, seringkali terjadikesalahpahaman yang diakibatkan tidak tuntasny...

Masalah Islam

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasar...

Ide Dalam Pembangunan

Dalam istilah Gramci, perubahan fundamental dalam ide merupakan produk dari penggantian” blok histo...

Kartini: Kontroversi Vs Emansipasi

...Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya terlebih dahulu direkayasa J.H. Abendanon. Beberapa ka...

Inflasi Di Balik Kebijakan

Pemotongan anggaran belanja pada beberapa kementeriandan badan tidak dapat dianggap enteng, dampakny...

Tembakau Deli, Dulu Hingga Kini

Pesatnya pertumbuhan industri perkebunan Tembakau Deli, juga telah memberi kontribusi pada pembangun...

Mimbar Jumat

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Lentera

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Lentera Ramadhan

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Banner
Salam Hormat Pada Guru
Articles | Opini
Written by Edy Rachmad on Tuesday, 29 November 2011 04:08   
Share
Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru.

Siapa yang berhak mendapatkan hormat pada kehidupan manusia. Jawabannya pastilah guru. Gurulah yang menciptakan peradaban pada diri setiap manusia. Dunia ini akan gelap, penuh dengan manusia yang tidak bermoral dan penuh dengan kebodohan jika guru tidak hadir sebagai pembuat perubahan.

Oleh sebab itu penghormatan kepada guru bukanlah penghormatan yang dibuat buat sebagaimana penghormatan yang diberikan pada setiap petinggi masyarakat yang kita hormati. Penghormatan pada guru adalah penghormatan sejati yang muncul dari hati sanubari anak didik yang telah menikmati arti dari perubahan peradaban itu.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang maju secara moral dan maju dalam berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi dan pertahanan dsb). Mereka tidak mudah goyah dengan pengaruh kehidupan bangsa lain. Mereka mempunyai identitas diri. Mereka bangsa yang kokoh yang menjadikan peradaban sebagai tonggak dalam kehidupan.

Merekapun mempunyai ketahanan yang kuat, yang memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai serta percaya diri tinggi. Ini semua muncul dari hasil jerih payah para guru.

Peran guru didalam menciptakan peradaban bukanlah sekadar melakukan transformasi ilmu dan teknologi. Yang lebih pokok daripada itu adalah transformasi nilai nilai kehidupan pada anak didiknya.

Guru memberikan penerangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika) dan gurupun memberikan penerangan tentang aturan hidup bermasyarakat. Guru juga memberi bekal hidup diatas bumi ini dan di hari akhir nantinya (akhirat). Tanpa peran ini manusia akan kembali hidup pada jaman batu karena pada dasarnya manusia tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri tanpa peran guru sebagai pembimbing peradaban.

Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru. Di atas fundamental inilah transpormasi ilmu dan teknologi diletakan. Tanpa fundamental yang kokoh maka ilmu dan teknologi yang ditransferkan kepada anak didik justru akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Derajat setiap guru adalah sama. Dan janganlah kita berpandangan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula derajat gurunya. Ini pandangan yang keliru yang berjalan selama ini. Pandangan yang keliru ini berdampak pada penghargaan yang berbeda pada para guru. Seharusnyalah pandangan ini diluruskan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah negara ini.

Justru pendidikan moral kehidupan itu berada pada jenjang pendidikan awal. Mendidik anak pada awal pendidikan (taman kanak kanak dan sekolah dasar) tidaklah semudah seorang guru (dosen) yang mentransferkan ilmunya pada anak didik (mahasiswa). Perbedaannya terletak pada transfer moral kehidupan yang diberikan oleh para guru kepada anak didik dengan transfer ilmu dan teknologi yang diberikan oleh para dosen pada mahasiswa. Transfer moral kehidupan jauh lebih sulit karena ia sesuatu yang tidak dapat terlihat tapi dapat dirasakan yang muncul dari sepak terjang anak didik itu.

Kita harus menjadikan pendidikan moral sebagai landasan bagi pendidikan berikutnya. Kegagalan dalam jenjang berikutnya tidak terlepas dari pendidikan moral yang pernah diperoleh murid didalam pendidikan awal, yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah kehidupan.

Demikian juga dengan menyimpangnya sikap anak didik dari moral yang telah ditanamkan pada dirinya, setelah ia menyelesaikan pendidikannya, juga merupakan hasil pendidikan moral yang berjalan tidak sempurna. Begitu pentingnya pendidikan moral kehidupan bagi setiap anak manusia.

Guru dalam jenjang pendidikan awal adalah motivator bagi anak didik, bagi kemajuan anak didik di dalam pendidikan berikutnya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awal pendidikan yang ditanamkan adalah pendidikan moral yang dijadikan landasan pada jenjang pendidikan berikutnya.

Namun semakin tinggi jenjang pendidikan itu pendidikan moral secara perlahan mulai ditinggalkan dan beralih kepada transformasi ilmu dan teknologi. Selama pendidikan moral telah ditanamkan secara kokoh maka tidak akan ditemukan hambatan di dalam mentransformasikan ilmu dan teknologi tersebut. Anak didik sudah terbiasa bagaimana harus bersikap di dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

Beberapa hari lalu para guru melaksanakan perayaan hari guru. Kita bersyukur sekaligus terharu karena di tengah kegembiraan itu terselip berita bahwa nasib para guru belum menyentuh kehidupan yang wajar. Di daerah pedalaman ada guru yang hidup, yang jika dihitung secara ekonomi, tidak mungkin dapat menghidupi anak dan isterinya. Mereka berpendapatan lebih kecil dari pendapatan para pekerja kasar yang hidup di daerah perkotaan.

Ini sungguh memprihatinkan. Masyarakat seharusnya malu dengan keadaan ini. Para guru telah menerima beban “pendapatan” yang rendah dan menerima beban “penghargaan” yang juga rendah.

Para guru berdemonstrasi tapi entah kemana arah demonstrasi itu ditujukan tidak jelas. Kita terenyuh karena tidak ada masyarakat yang merasa malu atas demontrasi ini. Masyarakat tidak merasa berdosa telah memperlakukan guru seperti saat ini. Padahal anak bangsa ini telah diadabkan menjadi manusia yang berperadaban yang akan menyelamatkan kehidupan anak di atas bumi maupun diakhirat nantinya. Sikap masyarakat seperti ini adalah pengaruh telah bergesernya filosofi kehidupan humanisme kepada filosofi kehidupan materiel/kebendaan. Mereka mengukur segalanya berdasarkan kebendaan seperti yang diajarkan dalam kehidupan ekonomi kapitalis.

Guru mereka jadikan sebagai alat produksi yang “diupah” sebagaimana hasil yang diperoleh secara nyata. Padahal hasil kerja guru itu tidak terlihat namun dapat dirasakan. Masyarakatpun tidak merasa berkewajiban untuk mendukung ajaran ajaran yang diberikan kepada anak didik di sekolah karena telah membayar upah guru. Terjadilah benturan antara ajaran di sekolah dengan di rumah.

Inilah wajah masyarakat kita saat ini yang tidak memiliki pikiran maju dan tidak memandang jauh ke depan. Masyarakat banyak yang belum paham apa peran guru dalam kehidupan. Sementara pemerintah sendiri menganggap masyarakat sudah mengetahuinya. Terjadilah dilemma seperti ini.

Namun sikap inipun ditanggapi oleh para guru dengan senang hati, terus mengabdi dan membuat perubahan terhadap anak didiknya. Mereka belum terpengaruh dengan pemikiran kapitalis dan cenderung memilih sikap humanis. Perlakuan yang mereka terima saat ini adalah resultante dari masyarakat yang tidak memiliki keperdulian kepada peradaban walau masyarakat mengakui dirinya telah memiliki peradaban. Sungguh memprihatinkan.

Pemerintah tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut jika bangsa ini hendak dijadikan bangsa yang berdaya saing tinggi mengimbangi bangsa bangsa lainnya. Tak ada daya saing yang kokoh tanpa pendidikan. Tak ada bangsa yang dapat bertahan diatas bumi tanpa memiliki peradaban.

Akhirnya kami atas nama anak didik yang telah menikmati hasil didikan para guru mengucapkan terima kasih atas jerih payah para guru yang telah mengadabkan diri kami. Kami tak pernah melupakan peran guru dari tingkat terendah sampai tertinggi. Tanpa guru kami tidak akan pernah diperhitungkan didalam kehidupan ini. Salam hormat kami pada para guru. ***** ( Bachtiar Hassan Miraza : Penulis adalah Guru Besar Emeritus USU, Pemerhati Ekonomi. )



Tags: Opini  
 

Internasional

Legenda Inflasi...

Tol laut, tol sumatera, gedung pencakar langit dan ja...

Buruh(Ku), Buruh(Mu), & Bu...

Minimnya peran negara sebatas sebagai pengatur berdam...

Fadhil Lubis Dan Hukum Isl...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam, seringkali terjad...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petaka...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada