Top Stories

Harapan Pasca-Pilpres 2014

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpres mampu menangkap, budaya bisu dari rakyat yang tersisih atau yang tidak terangkut kereta pembangunan dan perberadaban.Tulisan  ini berawal dari hipotesis subyektif, yang memang masih diperlukan penelitian mendalam. Bahwa proses politik dalam pemilihan umum (Pemilu) baik Pemilu Legislaif (Pileg) mapun Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 kemarin masih sarat didominasi praktek, sikap, sifat dan pola praktisme yang mengarah hedonisme dan kapitalisme. Sebelum Pileg dan Pilpres, pernah saya tulis tentang koalisi ideologi vs pragmatisme. Saat itu memang lagi hangat-hangatnya wacana koalisi partai. Intinya adalah rakyat sudah menunaikan kewajibanya dan itu perlu mendapat apresiasi dari semua kalangan, terutama negara dan para pihak penyelenggara Pemilu. Terlepas dari masih banyaknya angka Golput Pileg, rakyat mesti dihargai. Walau kemudian masih muncul pertanyaan kemana rakyat mesti mengadu masalah hidup setelah Pemilu. Tentu jawaban tetap sama seperti dulu, boleh disebut harapan perubahan yang berarti masih digantungkan oleh rakyat pada wakilnya. Namun saya menyarankan, jangan menggantungkan harapan terlalu besar.

DSR Dan Fluktuasi Nilai Tukar

Jangan buka kesempatan para spekulan berbuat untuk kepentingannya pribadi.  Kesalahan dalam kebijakan dapat membuka kesempatan bagi semua orang untuk berspekulasi.Debt to Service Ratio (DSR) dimaknai sebagai jumlah pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri jangka panjang dibandingkan dengan jumlah penerimaan nilai  ekspor. DSR berkaitan langsung dengan besarnya jumlah utang luar negeri setiap negara. Kalau utang luar negeri terus naik melampaui kenaikan nilai ekspor maka persentase DSR semakin besar. Itu berarti kekuatan nilai tukar semakin rapuh. Jika tidak dikontrol dengan baik kemungkinan terjadinya gagal bayar (utang) dan nilai tukar akan melemah. Masalah DSR adalah masalah umum dari negara sedang berkembang karena terjadinya ekspansi perusahaan dalam negeri secara besar besaran yang didukung dana utang luar negeri. Sebenarnya sampai batas tertentu hal ini adalah positif. Namun jika tanpa dikontrol baik adakalanya ia menjadi berlebihan/bumerang dan dapat mengganggu ekonomi makro dalam negeri dan risiko utang yang tinggi.

Otoritarianisme & Distorsi Bahasa Elit Politik

Kalau larangan telah menjadi kebiasaan, untuk apa akal sehat; Kalau kekejaman telah menjadi kebijaksanaan, untuk apakah pengadilan; Kalau penindasan telah menjadi sarapan, untuk apakah pembangunan; Kalau penyelewengan telah menjadi kebudayaan, mengapa kita masih di sini?Tahun 2014 merupakan tahun politik dengan dua agenda utama yaitu pemilu legislatif (Ppileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres). Satu di antaranya, yaitu pileg sudah dilaksanakan dengan segala dinamika dan problematikanya. Banyak hal menarik telah dipertontonkan pada pesta demokrasi bertajuk pileg yang penuh dengan hingar-bingar tersebut. Dari mulai prosesi pemilihan komisioner pelaksana pemilu yang rentan dengan personal interest calon legislatif (Caleg) hingga praktek kolaboratif nan kotor namun rapi antara si caleg dan oknum pelaksana pemilu. Potret nyata bahwa good and clean governance belum membudaya dalam perpolitikan bangsa Indonesia.

GAZA

“Jika saat tidurmu masih ada mimpi, maka kumohon bermimpilah sekali ini melempar kepala perdana menteri Israel. Masak dalam mimpi saja kau tak berani?” Ungkapan itu begitu keras diucapkan oleh Suroso, penjual air mineral isi ulang yang hampir setiap waktu sholat berada bersama jama’ah di mesjid.  Sepuluh hari terakhir ini ia sudah lebih banyak iktikaf di masjid meski tak menghentikan kegiatan pelayanan air isi ulang ke pelanggan. “Armada ini yang kita punya untuk membela kehormatan di Palestina. Apa boleh buat. Beritahu saya jika Anda memiliki yang lain: tank, drone, ketapel, ambalang, ultop dan lain-lain, termasuk harambir (kelapa)”.  Suroso berkata begitu serius sambil menunjuk-nunjuk beca bermotor miliknya buatan tahun 1983, yang dimodifikasi menjadi pengangkut air mineral isi ulang dari rumah ke rumah selama 3 tahun terakhir ini. Warna beca bermotor itu hitam, merah dan putih, dan tanpa nomor polisi.

Menjayakan Rumpun Melayu

Perwujudan rumpun Melayu yang dihormati dan disegani di mata bangsa-bangsa di dunia bukan tidak mungkin dicapai jika insan sesama rumpun Melayu menyadari kekuatan yang dimilikinyaAwal Mei yang lalu, Universiti Malaysia Perlis (UniMAP)  memprakarsai Seminar Pendidikan Melayu Antarabangsa di Surabaya. Rektor UniMAP mengatakan bahwa pelaksanaan seminar tersebut dilatarbelakangi pemikiran ingin menghimpun potensi dan kekuatan Melayu agar mampu memberikan kontribusi secara signifikan dalam menghadapi tantangan dunia.Dunia pendidikan  merupakan bagian penting dalam meningkatkan peran bangsa Melayu tersebut sehingga seminar yang bertemakan peran pendidikan ini dianggap strategis karena akan membuka jalan bagi akademisi Melayu untuk saling berbagi   dalam pengembangan inovasi dan teknologi pendidikan ke arah kecemerlangan saintis dan jurutera Melayu untuk selanjutnya mengembangkan kerjasama strategis  antarabangsa sesama rumpun Melayu  menuju kesejahteraan sejagat dengan sentiasa berpegang teguh pada norma agama (Islam) sebagai yang selama ini identik dengan bangsa Melayu.

Opini

Industri Politik

Politik sebagai sebuah industri yang baru meluncur di Indonesia, mungkin juga akan mengulangi nasib ...

Kutukisme Tak Cukup Lawan Israel

Umat Islam sedunia, saya kira semua ingin melampaui sekedar kutikisme pada Israel. Kita wajib memper...

Harapan Pasca-Pilpres 2014

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpres mampu menangkap, budaya bisu dari rakyat yang tersisih atau ya...

DSR Dan Fluktuasi Nilai Tukar

Jangan buka kesempatan para spekulan berbuat untuk kepentingannya pribadi.  Kesalahan dalam kebijaka...

Otoritarianisme & Distorsi Bahasa Elit Politik

Kalau larangan telah menjadi kebiasaan, untuk apa akal sehat; Kalau kekejaman telah menjadi kebijaks...

GAZA

“Jika saat tidurmu masih ada mimpi, maka kumohon bermimpilah sekali ini melempar kepala perdana ment...

Menjayakan Rumpun Melayu

Perwujudan rumpun Melayu yang dihormati dan disegani di mata bangsa-bangsa di dunia bukan tidak mung...

Mimbar Jumat

Industri Politik...

Politik sebagai sebuah industri yan...

Kutukisme Tak Cuk...

Umat Islam sedunia, saya kira semua...

Harapan Pasca-Pil...

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpr...

DSR Dan Fluktuasi...

Jangan buka kesempatan para spekula...

Lentera

Industri Politik...

Politik sebagai sebuah industri yan...

Kutukisme Tak Cuk...

Umat Islam sedunia, saya kira semua...

Harapan Pasca-Pil...

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpr...

DSR Dan Fluktuasi...

Jangan buka kesempatan para spekula...

Lentera Ramadhan

Industri Politik...

Politik sebagai sebuah industri yan...

Kutukisme Tak Cuk...

Umat Islam sedunia, saya kira semua...

Harapan Pasca-Pil...

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpr...

DSR Dan Fluktuasi...

Jangan buka kesempatan para spekula...

Banner
Salam Hormat Pada Guru
Articles | Opini
Written by Edy Rachmad on Tuesday, 29 November 2011 04:08   
Share
Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru.

Siapa yang berhak mendapatkan hormat pada kehidupan manusia. Jawabannya pastilah guru. Gurulah yang menciptakan peradaban pada diri setiap manusia. Dunia ini akan gelap, penuh dengan manusia yang tidak bermoral dan penuh dengan kebodohan jika guru tidak hadir sebagai pembuat perubahan.

Oleh sebab itu penghormatan kepada guru bukanlah penghormatan yang dibuat buat sebagaimana penghormatan yang diberikan pada setiap petinggi masyarakat yang kita hormati. Penghormatan pada guru adalah penghormatan sejati yang muncul dari hati sanubari anak didik yang telah menikmati arti dari perubahan peradaban itu.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang maju secara moral dan maju dalam berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi dan pertahanan dsb). Mereka tidak mudah goyah dengan pengaruh kehidupan bangsa lain. Mereka mempunyai identitas diri. Mereka bangsa yang kokoh yang menjadikan peradaban sebagai tonggak dalam kehidupan.

Merekapun mempunyai ketahanan yang kuat, yang memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai serta percaya diri tinggi. Ini semua muncul dari hasil jerih payah para guru.

Peran guru didalam menciptakan peradaban bukanlah sekadar melakukan transformasi ilmu dan teknologi. Yang lebih pokok daripada itu adalah transformasi nilai nilai kehidupan pada anak didiknya.

Guru memberikan penerangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika) dan gurupun memberikan penerangan tentang aturan hidup bermasyarakat. Guru juga memberi bekal hidup diatas bumi ini dan di hari akhir nantinya (akhirat). Tanpa peran ini manusia akan kembali hidup pada jaman batu karena pada dasarnya manusia tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri tanpa peran guru sebagai pembimbing peradaban.

Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru. Di atas fundamental inilah transpormasi ilmu dan teknologi diletakan. Tanpa fundamental yang kokoh maka ilmu dan teknologi yang ditransferkan kepada anak didik justru akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Derajat setiap guru adalah sama. Dan janganlah kita berpandangan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula derajat gurunya. Ini pandangan yang keliru yang berjalan selama ini. Pandangan yang keliru ini berdampak pada penghargaan yang berbeda pada para guru. Seharusnyalah pandangan ini diluruskan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah negara ini.

Justru pendidikan moral kehidupan itu berada pada jenjang pendidikan awal. Mendidik anak pada awal pendidikan (taman kanak kanak dan sekolah dasar) tidaklah semudah seorang guru (dosen) yang mentransferkan ilmunya pada anak didik (mahasiswa). Perbedaannya terletak pada transfer moral kehidupan yang diberikan oleh para guru kepada anak didik dengan transfer ilmu dan teknologi yang diberikan oleh para dosen pada mahasiswa. Transfer moral kehidupan jauh lebih sulit karena ia sesuatu yang tidak dapat terlihat tapi dapat dirasakan yang muncul dari sepak terjang anak didik itu.

Kita harus menjadikan pendidikan moral sebagai landasan bagi pendidikan berikutnya. Kegagalan dalam jenjang berikutnya tidak terlepas dari pendidikan moral yang pernah diperoleh murid didalam pendidikan awal, yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah kehidupan.

Demikian juga dengan menyimpangnya sikap anak didik dari moral yang telah ditanamkan pada dirinya, setelah ia menyelesaikan pendidikannya, juga merupakan hasil pendidikan moral yang berjalan tidak sempurna. Begitu pentingnya pendidikan moral kehidupan bagi setiap anak manusia.

Guru dalam jenjang pendidikan awal adalah motivator bagi anak didik, bagi kemajuan anak didik di dalam pendidikan berikutnya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awal pendidikan yang ditanamkan adalah pendidikan moral yang dijadikan landasan pada jenjang pendidikan berikutnya.

Namun semakin tinggi jenjang pendidikan itu pendidikan moral secara perlahan mulai ditinggalkan dan beralih kepada transformasi ilmu dan teknologi. Selama pendidikan moral telah ditanamkan secara kokoh maka tidak akan ditemukan hambatan di dalam mentransformasikan ilmu dan teknologi tersebut. Anak didik sudah terbiasa bagaimana harus bersikap di dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

Beberapa hari lalu para guru melaksanakan perayaan hari guru. Kita bersyukur sekaligus terharu karena di tengah kegembiraan itu terselip berita bahwa nasib para guru belum menyentuh kehidupan yang wajar. Di daerah pedalaman ada guru yang hidup, yang jika dihitung secara ekonomi, tidak mungkin dapat menghidupi anak dan isterinya. Mereka berpendapatan lebih kecil dari pendapatan para pekerja kasar yang hidup di daerah perkotaan.

Ini sungguh memprihatinkan. Masyarakat seharusnya malu dengan keadaan ini. Para guru telah menerima beban “pendapatan” yang rendah dan menerima beban “penghargaan” yang juga rendah.

Para guru berdemonstrasi tapi entah kemana arah demonstrasi itu ditujukan tidak jelas. Kita terenyuh karena tidak ada masyarakat yang merasa malu atas demontrasi ini. Masyarakat tidak merasa berdosa telah memperlakukan guru seperti saat ini. Padahal anak bangsa ini telah diadabkan menjadi manusia yang berperadaban yang akan menyelamatkan kehidupan anak di atas bumi maupun diakhirat nantinya. Sikap masyarakat seperti ini adalah pengaruh telah bergesernya filosofi kehidupan humanisme kepada filosofi kehidupan materiel/kebendaan. Mereka mengukur segalanya berdasarkan kebendaan seperti yang diajarkan dalam kehidupan ekonomi kapitalis.

Guru mereka jadikan sebagai alat produksi yang “diupah” sebagaimana hasil yang diperoleh secara nyata. Padahal hasil kerja guru itu tidak terlihat namun dapat dirasakan. Masyarakatpun tidak merasa berkewajiban untuk mendukung ajaran ajaran yang diberikan kepada anak didik di sekolah karena telah membayar upah guru. Terjadilah benturan antara ajaran di sekolah dengan di rumah.

Inilah wajah masyarakat kita saat ini yang tidak memiliki pikiran maju dan tidak memandang jauh ke depan. Masyarakat banyak yang belum paham apa peran guru dalam kehidupan. Sementara pemerintah sendiri menganggap masyarakat sudah mengetahuinya. Terjadilah dilemma seperti ini.

Namun sikap inipun ditanggapi oleh para guru dengan senang hati, terus mengabdi dan membuat perubahan terhadap anak didiknya. Mereka belum terpengaruh dengan pemikiran kapitalis dan cenderung memilih sikap humanis. Perlakuan yang mereka terima saat ini adalah resultante dari masyarakat yang tidak memiliki keperdulian kepada peradaban walau masyarakat mengakui dirinya telah memiliki peradaban. Sungguh memprihatinkan.

Pemerintah tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut jika bangsa ini hendak dijadikan bangsa yang berdaya saing tinggi mengimbangi bangsa bangsa lainnya. Tak ada daya saing yang kokoh tanpa pendidikan. Tak ada bangsa yang dapat bertahan diatas bumi tanpa memiliki peradaban.

Akhirnya kami atas nama anak didik yang telah menikmati hasil didikan para guru mengucapkan terima kasih atas jerih payah para guru yang telah mengadabkan diri kami. Kami tak pernah melupakan peran guru dari tingkat terendah sampai tertinggi. Tanpa guru kami tidak akan pernah diperhitungkan didalam kehidupan ini. Salam hormat kami pada para guru. ***** ( Bachtiar Hassan Miraza : Penulis adalah Guru Besar Emeritus USU, Pemerhati Ekonomi. )



Tags: Opini  
 

Internasional

Melestarikan Laut...

Saat ini potensi wilayah laut terancam punah, populas...

Industri Politik...

Politik sebagai sebuah industri yang baru meluncur di...

Kutukisme Tak Cukup Lawan ...

Umat Islam sedunia, saya kira semua ingin melampaui s...

Harapan Pasca-Pilpres 2014...

Rakyat berharap, negara pasca-Pilpres mampu menangkap...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada