Top Stories

Cermin Keluarga Berkualitas Sejahtera

Kesejahteraan tidak bisa diraih hanya lewat peran individu keluarga, di dalamnya ada peran negara.Keluarga adalah komponen terkecil dalam tatanan masyarakat. Keutuhan dalam keluarga berperan penting dalam masyarakat. Jika ikatan dalam keluarga kuat maka kuatlah ikatan masyarakat. Sebaliknya bila ikatan keluarga rapuh maka akan hancurlah ikatan dalam masyarakat, selanjutnya akan muncul berbagai macam masalah di tengah masyarakat diakibatkan permasalahan keluarga. Bersandar dari hal ini, sudah seharusnya negara memberikan perhatian khusus karena keluarga adalah tempat utama tumbuh kembang individu berkualitas aset pembangunan dan peradaban. Setiap keluarga pasti mendambakan kebahagiaan terutama bagi keluarga Muslim. Keluarga Muslim adalah keluarga bahagia ketika para penghuninya yakni ayah, ibu dan anak merasakan ketenteraman, kedamaian di dalamnya.

Cinta Altruistic
What Next Pasca Vonis Akil…

Pembacaan vonis koruptor kakap sekelas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) di bulan Ramadhan agaknya memberi sedikit ‘’rahmat’’ buat sang pesakitan. Walaupun masyarakat mendesak agar majelis hakim menjatuhkan hukuman mati untuk menimbulkan efek jera dan rasa takut bagi pejabat negara nakal. Nyatanya, Akil hanya divonis seumur hidup, seperti tuntutan jaksa. Akil terbukti bersalah menerima hadiah dan gratifikasi serta tindak pidana pencucian uang terkait sejumlah kasus sengketa Pilkada di MK.Mungkin saja ‘’rahmat’’ itu datang setelah munculnya permintaan maaf dari pengacaranya Akil Mochtar –walaupun terdakwa sendiri terus-menerus membantah dan menyatakan sikapnya akan menuntut keadilan (banding) sampai ke surga karena merasa tak bersalah berdasarkan fakta-fakta persidangan.

Dua Tahun Doto - Mualem

Pembangunan kawasan tengah, Barat dan Selatan Aceh tentu harus diprioritaskan. Mengingat relatif tertinggal dibanding kabupaten/kota di lintas Medan-Banda Aceh.Duet pemimpin Aceh, dr Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf kini berusia dua tahun. Tersisa tiga tahun lagi masa jabatan orang yang akrab di sapa Doto dan Mualem di bumoe Aceh itu. Selama dua tahun terakhir, banyak hal yang telah dikerjakan. Mulai dari pemberian beasiswa untuk anak Aceh ke luar negeri. Meminta izin impor untuk pelabuhan di Aceh ke pemerintah pusat. Meningkatkan fasilitas Bandara Rembele Aceh Tengah hingga membangun infrastruktur jalan, jembatan dan irigasi di sejumlah kabupaten/kota. Ibarat membuka lahan baru, selama dua tahun ini duet yang diusung Partai Aceh itu baru menebas jalan setapak. Menyiapkan jalan masuk ke areal lahan, lalu menerabas hutan, membakar ranting dan kayu agar bisa mencangkul tanah dan menanam aneka tumbuhan. Pada akhirnya bisa memetik tanaman yang bernilai ekonomis. Masih banyak tahapan yang harus dikerjakan.

Ramadhan Fair; Idealita & Realita

Tahun-tahun terakhir banyak ditemukan kegiatan dan perilaku menyimpang di sekitar area Ramadhan Fair. Bahkan ada yang pernah mendapat tawaran transaksi seksual dari beberapa wanita penghibur Dalam rangka menyemarakkan dan menggairahkan suasana Ramadhan, sekitar tahun 2003 Wali Kota Medan Drs Abdillah Ak, MBA (bang Dillah) menggagas suatu even di sekitar Masjid Raya Medan dengan nama Ramadhan Fair. Even ini dibuat di sekitar Masjid Raya, tidak lain agar para shooimin (orang yang puasa) saat menikmati suasana dapat selalu ingat dan berintegrasi dengan masjid. Setelah berbuka di tempat itu, masyarakat yang berpuasa dapat melaksanakan shalat Maghrib, Isya dan tarawih berjamaah di masjid yang betuah dan monumental tersebut. Maka tidak mengherankan bila saat itu wali kota sengaja mengkramik seluruh halaman luar Masjid Raya agar kaum Muslimin yang shalat berjamaah dan tidak sempat masuk ke dalam masjid dapat memanfaatkan pelantaran masjid. Sehingga pembudayaan proses islamisasi melalui momentum bulan Ramadhan yang dikemas lewat Ramadhan Fair dapat terlihat dan terwujud. Namun apakah dalam perjalanan even ini setiap tahunnya sampai sekarang berlangsung seperti diharapkan, khususnya harapan masyarakat Muslim di kota Medan tercinta ini? Untuk itulah tulisan ini dihadirkan.

Opini

Problematika Independensi Hakim Agung

Hakim Agung yang mandiri merupakan syarat lahirnya putusan tidak mengandung konflik kepentinganProf ...

Surat Terbuka Magnis Suseno

Surat itu tentulah lebih ditujukan kepada warga terdidik dan jika mereka berusaha mencernanya (catat...

Cermin Keluarga Berkualitas Sejahtera

Kesejahteraan tidak bisa diraih hanya lewat peran individu keluarga, di dalamnya ada peran negara.Ke...

Cinta Altruistic

Bagaimana kita memastikan kandidat yang kita pilih melakukan “pengorbanan” untuk kita? Ada enam cara...

What Next Pasca Vonis Akil…

Pembacaan vonis koruptor kakap sekelas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) di bulan Ramadhan agakn...

Dua Tahun Doto - Mualem

Pembangunan kawasan tengah, Barat dan Selatan Aceh tentu harus diprioritaskan. Mengingat relatif ter...

Ramadhan Fair; Idealita & Realita

Tahun-tahun terakhir banyak ditemukan kegiatan dan perilaku menyimpang di sekitar area Ramadhan Fair...

Mimbar Jumat

Problematika Inde...

Hakim Agung yang mandiri merupakan ...

Surat Terbuka Mag...

Surat itu tentulah lebih ditujukan ...

Cermin Keluarga B...

Kesejahteraan tidak bisa diraih han...

Cinta Altruistic...

Bagaimana kita memastikan kandidat ...

Lentera

Problematika Inde...

Hakim Agung yang mandiri merupakan ...

Surat Terbuka Mag...

Surat itu tentulah lebih ditujukan ...

Cermin Keluarga B...

Kesejahteraan tidak bisa diraih han...

Cinta Altruistic...

Bagaimana kita memastikan kandidat ...

Lentera Ramadhan

Problematika Inde...

Hakim Agung yang mandiri merupakan ...

Surat Terbuka Mag...

Surat itu tentulah lebih ditujukan ...

Cermin Keluarga B...

Kesejahteraan tidak bisa diraih han...

Cinta Altruistic...

Bagaimana kita memastikan kandidat ...

Banner
Salam Hormat Pada Guru
Articles | Opini
Written by Edy Rachmad on Tuesday, 29 November 2011 04:08   
Share
Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru.

Siapa yang berhak mendapatkan hormat pada kehidupan manusia. Jawabannya pastilah guru. Gurulah yang menciptakan peradaban pada diri setiap manusia. Dunia ini akan gelap, penuh dengan manusia yang tidak bermoral dan penuh dengan kebodohan jika guru tidak hadir sebagai pembuat perubahan.

Oleh sebab itu penghormatan kepada guru bukanlah penghormatan yang dibuat buat sebagaimana penghormatan yang diberikan pada setiap petinggi masyarakat yang kita hormati. Penghormatan pada guru adalah penghormatan sejati yang muncul dari hati sanubari anak didik yang telah menikmati arti dari perubahan peradaban itu.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang maju secara moral dan maju dalam berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi dan pertahanan dsb). Mereka tidak mudah goyah dengan pengaruh kehidupan bangsa lain. Mereka mempunyai identitas diri. Mereka bangsa yang kokoh yang menjadikan peradaban sebagai tonggak dalam kehidupan.

Merekapun mempunyai ketahanan yang kuat, yang memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai serta percaya diri tinggi. Ini semua muncul dari hasil jerih payah para guru.

Peran guru didalam menciptakan peradaban bukanlah sekadar melakukan transformasi ilmu dan teknologi. Yang lebih pokok daripada itu adalah transformasi nilai nilai kehidupan pada anak didiknya.

Guru memberikan penerangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika) dan gurupun memberikan penerangan tentang aturan hidup bermasyarakat. Guru juga memberi bekal hidup diatas bumi ini dan di hari akhir nantinya (akhirat). Tanpa peran ini manusia akan kembali hidup pada jaman batu karena pada dasarnya manusia tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri tanpa peran guru sebagai pembimbing peradaban.

Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru. Di atas fundamental inilah transpormasi ilmu dan teknologi diletakan. Tanpa fundamental yang kokoh maka ilmu dan teknologi yang ditransferkan kepada anak didik justru akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Derajat setiap guru adalah sama. Dan janganlah kita berpandangan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula derajat gurunya. Ini pandangan yang keliru yang berjalan selama ini. Pandangan yang keliru ini berdampak pada penghargaan yang berbeda pada para guru. Seharusnyalah pandangan ini diluruskan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah negara ini.

Justru pendidikan moral kehidupan itu berada pada jenjang pendidikan awal. Mendidik anak pada awal pendidikan (taman kanak kanak dan sekolah dasar) tidaklah semudah seorang guru (dosen) yang mentransferkan ilmunya pada anak didik (mahasiswa). Perbedaannya terletak pada transfer moral kehidupan yang diberikan oleh para guru kepada anak didik dengan transfer ilmu dan teknologi yang diberikan oleh para dosen pada mahasiswa. Transfer moral kehidupan jauh lebih sulit karena ia sesuatu yang tidak dapat terlihat tapi dapat dirasakan yang muncul dari sepak terjang anak didik itu.

Kita harus menjadikan pendidikan moral sebagai landasan bagi pendidikan berikutnya. Kegagalan dalam jenjang berikutnya tidak terlepas dari pendidikan moral yang pernah diperoleh murid didalam pendidikan awal, yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah kehidupan.

Demikian juga dengan menyimpangnya sikap anak didik dari moral yang telah ditanamkan pada dirinya, setelah ia menyelesaikan pendidikannya, juga merupakan hasil pendidikan moral yang berjalan tidak sempurna. Begitu pentingnya pendidikan moral kehidupan bagi setiap anak manusia.

Guru dalam jenjang pendidikan awal adalah motivator bagi anak didik, bagi kemajuan anak didik di dalam pendidikan berikutnya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awal pendidikan yang ditanamkan adalah pendidikan moral yang dijadikan landasan pada jenjang pendidikan berikutnya.

Namun semakin tinggi jenjang pendidikan itu pendidikan moral secara perlahan mulai ditinggalkan dan beralih kepada transformasi ilmu dan teknologi. Selama pendidikan moral telah ditanamkan secara kokoh maka tidak akan ditemukan hambatan di dalam mentransformasikan ilmu dan teknologi tersebut. Anak didik sudah terbiasa bagaimana harus bersikap di dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

Beberapa hari lalu para guru melaksanakan perayaan hari guru. Kita bersyukur sekaligus terharu karena di tengah kegembiraan itu terselip berita bahwa nasib para guru belum menyentuh kehidupan yang wajar. Di daerah pedalaman ada guru yang hidup, yang jika dihitung secara ekonomi, tidak mungkin dapat menghidupi anak dan isterinya. Mereka berpendapatan lebih kecil dari pendapatan para pekerja kasar yang hidup di daerah perkotaan.

Ini sungguh memprihatinkan. Masyarakat seharusnya malu dengan keadaan ini. Para guru telah menerima beban “pendapatan” yang rendah dan menerima beban “penghargaan” yang juga rendah.

Para guru berdemonstrasi tapi entah kemana arah demonstrasi itu ditujukan tidak jelas. Kita terenyuh karena tidak ada masyarakat yang merasa malu atas demontrasi ini. Masyarakat tidak merasa berdosa telah memperlakukan guru seperti saat ini. Padahal anak bangsa ini telah diadabkan menjadi manusia yang berperadaban yang akan menyelamatkan kehidupan anak di atas bumi maupun diakhirat nantinya. Sikap masyarakat seperti ini adalah pengaruh telah bergesernya filosofi kehidupan humanisme kepada filosofi kehidupan materiel/kebendaan. Mereka mengukur segalanya berdasarkan kebendaan seperti yang diajarkan dalam kehidupan ekonomi kapitalis.

Guru mereka jadikan sebagai alat produksi yang “diupah” sebagaimana hasil yang diperoleh secara nyata. Padahal hasil kerja guru itu tidak terlihat namun dapat dirasakan. Masyarakatpun tidak merasa berkewajiban untuk mendukung ajaran ajaran yang diberikan kepada anak didik di sekolah karena telah membayar upah guru. Terjadilah benturan antara ajaran di sekolah dengan di rumah.

Inilah wajah masyarakat kita saat ini yang tidak memiliki pikiran maju dan tidak memandang jauh ke depan. Masyarakat banyak yang belum paham apa peran guru dalam kehidupan. Sementara pemerintah sendiri menganggap masyarakat sudah mengetahuinya. Terjadilah dilemma seperti ini.

Namun sikap inipun ditanggapi oleh para guru dengan senang hati, terus mengabdi dan membuat perubahan terhadap anak didiknya. Mereka belum terpengaruh dengan pemikiran kapitalis dan cenderung memilih sikap humanis. Perlakuan yang mereka terima saat ini adalah resultante dari masyarakat yang tidak memiliki keperdulian kepada peradaban walau masyarakat mengakui dirinya telah memiliki peradaban. Sungguh memprihatinkan.

Pemerintah tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut jika bangsa ini hendak dijadikan bangsa yang berdaya saing tinggi mengimbangi bangsa bangsa lainnya. Tak ada daya saing yang kokoh tanpa pendidikan. Tak ada bangsa yang dapat bertahan diatas bumi tanpa memiliki peradaban.

Akhirnya kami atas nama anak didik yang telah menikmati hasil didikan para guru mengucapkan terima kasih atas jerih payah para guru yang telah mengadabkan diri kami. Kami tak pernah melupakan peran guru dari tingkat terendah sampai tertinggi. Tanpa guru kami tidak akan pernah diperhitungkan didalam kehidupan ini. Salam hormat kami pada para guru. ***** ( Bachtiar Hassan Miraza : Penulis adalah Guru Besar Emeritus USU, Pemerhati Ekonomi. )



Tags: Opini  
 

Internasional

Kreativitas Dan Inovasi...

Potensi alam yang dimiliki bangsa kita sesungguhnya b...

Problematika Independensi ...

Hakim Agung yang mandiri merupakan syarat lahirnya pu...

Surat Terbuka Magnis Susen...

Surat itu tentulah lebih ditujukan kepada warga terdi...

Cermin Keluarga Berkualita...

Kesejahteraan tidak bisa diraih hanya lewat peran ind...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada