Top Stories

Waspada Efek ISIS
Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Konsistensi pemerintah untuk tidak konsisten makin nyata ketika masih adanya menteri kabinet yang masih menjadi fungsionaris partaiPemerintahan Jokowi-JK sudah berlangsung hampir enam bulan, telah sangat banyak kebijakan, keputusan, peraturan, program, dan aktivitas yang ditunjukkan dan ditujukan kepada masyarakat. Namun ada hal yang menjadi ciri yang nampak dari keputusan yang diambil yaitu terkesan diambil tanpa pertimbangan kuat. Kebijakan yang diambil lebih ditujukan untuk pencitraan, serta tidak tegas dalam menjalankan peraturan. Kunci munculnya keputusan demikian diyakini berkaitan tidak konsistennya pemerintah dan ketidakkonsistenan ini kelihatannya akan konsisten terus dipertahankan. Sehingga bolehlah dikatakan pemerintahan kita sekarang ini bertahan konsisten untuk tidak konsisten.

Kewajiban Produk Bersertifikat Halal
Partai Golkar Sumatera Utara

Konsekuensi Menkumham mengesahkan kubu Agung Laksono membawa implikasi politik ke daerah. Salah satunya, kubu Agung Laksono membentuk kepengurusan di daerahPartai Golongan Karya (Golkar) adalah salah partai politik tertua dalam sejarah kepartaian. Cikal bakal partai ini berasal dari Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) yang berdiri di masa Orde Lama. Setelah berdirinya Orde Baru terdapat tiga partai politik, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dibanding dua partai lainnya, sejak berdirinya Golkar mendapat proteksi politik sehingga senantiasa berada dalam pusaran kekuasaan, bahkan menjadi partai pemerintah Orde Baru. Semua elit nasional dan elit daerah, termasuk elit militer di pusat dan daerah menjadi pengurus Golkar. Dengan demikian Golkar dapat terus bertahan dan dipertahankan sebagai the ruling party sepanjang kekuasaan Orde Baru.

Menduniakan Tenunan Songket Sumut

Opini

Sial Buat Presiden Jokowi

Saat mengundang para pengamat politik dan pemerintahan ke Istana Negara, Selasa (14/4), saya yakin b...

Paradigma Dalam Bernegara

Publik semestinya mampu menilai, apakah berbagai bentuk perbuatan penyelenggara pemerintahan baik di...

Waspada Efek ISIS

Muncul indikasi bahwa isu ISIS akan dijadikan alat legitimasi untuk merevisi Undang-Undang OrmasIsu ...

Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Konsistensi pemerintah untuk tidak konsisten makin nyata ketika masih adanya menteri kabinet yang ma...

Kewajiban Produk Bersertifikat Halal

Hukum wajib bersertifikat halal harus memiliki satu landasan baru. Sifat mandatory bersertifikat hal...

Partai Golkar Sumatera Utara

Konsekuensi Menkumham mengesahkan kubu Agung Laksono membawa implikasi politik ke daerah. Salah satu...

Menduniakan Tenunan Songket Sumut

Satu hal yang menjadi kredit poin adalah sikap menjawab wacana miring dengan aktivitas positif yang ...

Mimbar Jumat

Sial Buat Preside...

Saat mengundang para pengamat polit...

Paradigma Dalam B...

Publik semestinya mampu menilai, ap...

Waspada Efek ISIS...

Muncul indikasi bahwa isu ISIS akan...

Konsisten Untuk T...

Konsistensi pemerintah untuk tidak ...

Lentera

Sial Buat Preside...

Saat mengundang para pengamat polit...

Paradigma Dalam B...

Publik semestinya mampu menilai, ap...

Waspada Efek ISIS...

Muncul indikasi bahwa isu ISIS akan...

Konsisten Untuk T...

Konsistensi pemerintah untuk tidak ...

Lentera Ramadhan

Sial Buat Preside...

Saat mengundang para pengamat polit...

Paradigma Dalam B...

Publik semestinya mampu menilai, ap...

Waspada Efek ISIS...

Muncul indikasi bahwa isu ISIS akan...

Konsisten Untuk T...

Konsistensi pemerintah untuk tidak ...

Banner
Salam Hormat Pada Guru
Articles | Opini
Written by Edy Rachmad on Tuesday, 29 November 2011 04:08   
Share
Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru.

Siapa yang berhak mendapatkan hormat pada kehidupan manusia. Jawabannya pastilah guru. Gurulah yang menciptakan peradaban pada diri setiap manusia. Dunia ini akan gelap, penuh dengan manusia yang tidak bermoral dan penuh dengan kebodohan jika guru tidak hadir sebagai pembuat perubahan.

Oleh sebab itu penghormatan kepada guru bukanlah penghormatan yang dibuat buat sebagaimana penghormatan yang diberikan pada setiap petinggi masyarakat yang kita hormati. Penghormatan pada guru adalah penghormatan sejati yang muncul dari hati sanubari anak didik yang telah menikmati arti dari perubahan peradaban itu.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang maju secara moral dan maju dalam berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi dan pertahanan dsb). Mereka tidak mudah goyah dengan pengaruh kehidupan bangsa lain. Mereka mempunyai identitas diri. Mereka bangsa yang kokoh yang menjadikan peradaban sebagai tonggak dalam kehidupan.

Merekapun mempunyai ketahanan yang kuat, yang memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai serta percaya diri tinggi. Ini semua muncul dari hasil jerih payah para guru.

Peran guru didalam menciptakan peradaban bukanlah sekadar melakukan transformasi ilmu dan teknologi. Yang lebih pokok daripada itu adalah transformasi nilai nilai kehidupan pada anak didiknya.

Guru memberikan penerangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika) dan gurupun memberikan penerangan tentang aturan hidup bermasyarakat. Guru juga memberi bekal hidup diatas bumi ini dan di hari akhir nantinya (akhirat). Tanpa peran ini manusia akan kembali hidup pada jaman batu karena pada dasarnya manusia tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri tanpa peran guru sebagai pembimbing peradaban.

Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru. Di atas fundamental inilah transpormasi ilmu dan teknologi diletakan. Tanpa fundamental yang kokoh maka ilmu dan teknologi yang ditransferkan kepada anak didik justru akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Derajat setiap guru adalah sama. Dan janganlah kita berpandangan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula derajat gurunya. Ini pandangan yang keliru yang berjalan selama ini. Pandangan yang keliru ini berdampak pada penghargaan yang berbeda pada para guru. Seharusnyalah pandangan ini diluruskan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah negara ini.

Justru pendidikan moral kehidupan itu berada pada jenjang pendidikan awal. Mendidik anak pada awal pendidikan (taman kanak kanak dan sekolah dasar) tidaklah semudah seorang guru (dosen) yang mentransferkan ilmunya pada anak didik (mahasiswa). Perbedaannya terletak pada transfer moral kehidupan yang diberikan oleh para guru kepada anak didik dengan transfer ilmu dan teknologi yang diberikan oleh para dosen pada mahasiswa. Transfer moral kehidupan jauh lebih sulit karena ia sesuatu yang tidak dapat terlihat tapi dapat dirasakan yang muncul dari sepak terjang anak didik itu.

Kita harus menjadikan pendidikan moral sebagai landasan bagi pendidikan berikutnya. Kegagalan dalam jenjang berikutnya tidak terlepas dari pendidikan moral yang pernah diperoleh murid didalam pendidikan awal, yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah kehidupan.

Demikian juga dengan menyimpangnya sikap anak didik dari moral yang telah ditanamkan pada dirinya, setelah ia menyelesaikan pendidikannya, juga merupakan hasil pendidikan moral yang berjalan tidak sempurna. Begitu pentingnya pendidikan moral kehidupan bagi setiap anak manusia.

Guru dalam jenjang pendidikan awal adalah motivator bagi anak didik, bagi kemajuan anak didik di dalam pendidikan berikutnya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awal pendidikan yang ditanamkan adalah pendidikan moral yang dijadikan landasan pada jenjang pendidikan berikutnya.

Namun semakin tinggi jenjang pendidikan itu pendidikan moral secara perlahan mulai ditinggalkan dan beralih kepada transformasi ilmu dan teknologi. Selama pendidikan moral telah ditanamkan secara kokoh maka tidak akan ditemukan hambatan di dalam mentransformasikan ilmu dan teknologi tersebut. Anak didik sudah terbiasa bagaimana harus bersikap di dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

Beberapa hari lalu para guru melaksanakan perayaan hari guru. Kita bersyukur sekaligus terharu karena di tengah kegembiraan itu terselip berita bahwa nasib para guru belum menyentuh kehidupan yang wajar. Di daerah pedalaman ada guru yang hidup, yang jika dihitung secara ekonomi, tidak mungkin dapat menghidupi anak dan isterinya. Mereka berpendapatan lebih kecil dari pendapatan para pekerja kasar yang hidup di daerah perkotaan.

Ini sungguh memprihatinkan. Masyarakat seharusnya malu dengan keadaan ini. Para guru telah menerima beban “pendapatan” yang rendah dan menerima beban “penghargaan” yang juga rendah.

Para guru berdemonstrasi tapi entah kemana arah demonstrasi itu ditujukan tidak jelas. Kita terenyuh karena tidak ada masyarakat yang merasa malu atas demontrasi ini. Masyarakat tidak merasa berdosa telah memperlakukan guru seperti saat ini. Padahal anak bangsa ini telah diadabkan menjadi manusia yang berperadaban yang akan menyelamatkan kehidupan anak di atas bumi maupun diakhirat nantinya. Sikap masyarakat seperti ini adalah pengaruh telah bergesernya filosofi kehidupan humanisme kepada filosofi kehidupan materiel/kebendaan. Mereka mengukur segalanya berdasarkan kebendaan seperti yang diajarkan dalam kehidupan ekonomi kapitalis.

Guru mereka jadikan sebagai alat produksi yang “diupah” sebagaimana hasil yang diperoleh secara nyata. Padahal hasil kerja guru itu tidak terlihat namun dapat dirasakan. Masyarakatpun tidak merasa berkewajiban untuk mendukung ajaran ajaran yang diberikan kepada anak didik di sekolah karena telah membayar upah guru. Terjadilah benturan antara ajaran di sekolah dengan di rumah.

Inilah wajah masyarakat kita saat ini yang tidak memiliki pikiran maju dan tidak memandang jauh ke depan. Masyarakat banyak yang belum paham apa peran guru dalam kehidupan. Sementara pemerintah sendiri menganggap masyarakat sudah mengetahuinya. Terjadilah dilemma seperti ini.

Namun sikap inipun ditanggapi oleh para guru dengan senang hati, terus mengabdi dan membuat perubahan terhadap anak didiknya. Mereka belum terpengaruh dengan pemikiran kapitalis dan cenderung memilih sikap humanis. Perlakuan yang mereka terima saat ini adalah resultante dari masyarakat yang tidak memiliki keperdulian kepada peradaban walau masyarakat mengakui dirinya telah memiliki peradaban. Sungguh memprihatinkan.

Pemerintah tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut jika bangsa ini hendak dijadikan bangsa yang berdaya saing tinggi mengimbangi bangsa bangsa lainnya. Tak ada daya saing yang kokoh tanpa pendidikan. Tak ada bangsa yang dapat bertahan diatas bumi tanpa memiliki peradaban.

Akhirnya kami atas nama anak didik yang telah menikmati hasil didikan para guru mengucapkan terima kasih atas jerih payah para guru yang telah mengadabkan diri kami. Kami tak pernah melupakan peran guru dari tingkat terendah sampai tertinggi. Tanpa guru kami tidak akan pernah diperhitungkan didalam kehidupan ini. Salam hormat kami pada para guru. ***** ( Bachtiar Hassan Miraza : Penulis adalah Guru Besar Emeritus USU, Pemerhati Ekonomi. )



Tags: Opini  
 

Internasional

Rezim Tritagonis...

Alih-alih memberikan "kesejahteraan" kepada rakyat, j...

Sial Buat Presiden Jokowi ...

Saat mengundang para pengamat politik dan pemerintaha...

Paradigma Dalam Bernegara...

Publik semestinya mampu menilai, apakah berbagai bent...

Waspada Efek ISIS...

Muncul indikasi bahwa isu ISIS akan dijadikan alat le...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada