Top Stories

Israel Maling, Teriak Maling

Dunia tidak boleh membiarkan Israel mengumbar nafsu angkara muraknya, bertindak berutal. Seruan-seruan saja tidak cukup, harus ada tindakan nyata.Apa yang terjadi di Gaza sekarang ini tidak lepas dari sikap keras kepala Israel yang menganggap serangannya ke Palestina hanya untuk membela diri. Israel baru mau menghentikan serangannya kalau Hamas menghentikan penembakan roket ke wilayah Israel. Karena itu, terowongan-terowongan yang menjadi jalan orang-orang Hamas ke wilayah Israel dan dari Mesir ke Gaza digempur. Padahal, Hamas menembakkan roket ke Israel karena lebih dulu diserang. Jauh sebelum peristiwa hilangnya tiga remaja Israel dan ditemukan setelah menjadi mayat, Tel Aviv sudah melakukan pengepungan, pemblokadean, pendudukan, dan pembangunan permukiman di wilayah Palestina. Karena itu, Hamas baru mau berhenti, jika pengepungan, pemblokadean, dan pembangunan permukiman di Palestina dihentikan.

Dekonsolidasi Demokrasi

Realisasi agenda ketiga konsolidasi pun masih jauh panggang dari api. Sebab, kita lihat betapa tidak efektifnya kinerja pemerintah dalam menghasilkan kebijakan yang dibutuhkan masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Larry Diamond dalam Developing Democracy: Toward Consolidation (1999), ada tiga hal utama yang harus diprioritaskan negara-negara transisi, termasuk Indonesia, dalam melakukan konsolidasi demokrasi. Pertama, penetrasi nilai-nilai demokrasi ke dalam setiap perilaku warga. Kedua, institusionalisasi politik yang mensyaratkan penguatan kapasitas bagi lembaga politik utama seperti lembaga peradilan, lembaga legislatif, partai politik, dan pemilihan umum (Pemilu). Ketiga, mengefektifkan kinerja pemerintah untuk dapat menghasilkan kebijakan yang dibutuhkan rakyat. Selain itu, Diamond mengingatkan bahwa situasi transisi biasanya kian diperburuk dengan adanya ketidakmampuan pemerintah mengatasi krisis ekonomi berkepanjangan.

Momentum Penegakan Hukum

Baik Polisi, Jaksa, Pengacara maupun Hakim yang merupakan pilar dalam penegakan hukum justru menjadikan hukum sebagai pisau bermata dua Di tengah hiruk-pikuk dan perdebatan panjang dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres), penegakan hukum dalam memberantas korupsi kembali menemui angin segar. Upaya memberantas korupsi yang telah semakin membudaya dan mengakar di bumi pertiwi, seakan mulai terobati dengan adanya putusan yang dijatuhkan terhadap mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Sebagaimana yang kita ketahui, Akil Mochtar dinyatakan terbukti bersalah atas kasus suap perkara sengketa beberapa Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) di Mahkamah Konstitusi (MK) dan pencucian uang. Majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) menjatuhkan vonis maksimal kepada mantan ketua MK tersebut sesuai tuntutan jaksa pada KPK, yaitu hukuman penjara seumur hidup.

Menyoal Kualitas Guru

Jika kualitas dosen LPTK masih merangkak dan jalan di tempat, maka jangan banyak berharap akan kualitas guru, karena keduanya merupakan sebab-akibatBelakangan ini, guru selalu menjadi buah bibir pembicaraan di banyak media. Hal ini tidak terlepas dari adanya perubahan mendasar dalam tatanan konstruksi pendidikan di negeri ini. Sejak gaung reformasi dipekikkan, serasa semua mahfum bahwa salah satu kunci kebangkitan bangsa ini adalah reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan tentu saja tidak hanya berbicara tentang pembangunan gedung sekolah, pendidikan murah, akses perpustakaan luas, melainkan berbicara setting yang lebih makro dan luas. Pendidikan dalam konteks reformasi berarti berbicara tentang semua substansi dan esensi pendidikan yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan.

Pajak Diganti Dengan Zakat?

Opini

Diskriminasi Gaji Ke-13

...negara secara kentara hanya memberikan jaminan kesejahteraan, khususnya kesejahteraan ekonomi kep...

Titik Lemah (Kekalahan) Prabowo-Hatta

Pengumuman pemenang Pilpres 2014 pada Selasa (22/7) malam berlangsung antiklimaks karena beberapa ja...

Israel Maling, Teriak Maling

Dunia tidak boleh membiarkan Israel mengumbar nafsu angkara muraknya, bertindak berutal. Seruan-seru...

Dekonsolidasi Demokrasi

Realisasi agenda ketiga konsolidasi pun masih jauh panggang dari api. Sebab, kita lihat betapa tidak...

Momentum Penegakan Hukum

Baik Polisi, Jaksa, Pengacara maupun Hakim yang merupakan pilar dalam penegakan hukum justru menjadi...

Menyoal Kualitas Guru

Jika kualitas dosen LPTK masih merangkak dan jalan di tempat, maka jangan banyak berharap akan kuali...

Pajak Diganti Dengan Zakat?

Pajak dan zakat di atas, ada beberapa persamaan yang dapat kita lihat secara kasat mataJika kita men...

Mimbar Jumat

Diskriminasi Gaji...

...negara secara kentara hanya memb...

Titik Lemah (Keka...

Pengumuman pemenang Pilpres 2014 pa...

Israel Maling, Te...

Dunia tidak boleh membiarkan Israel...

Dekonsolidasi Dem...

Realisasi agenda ketiga konsolidasi...

Lentera

Diskriminasi Gaji...

...negara secara kentara hanya memb...

Titik Lemah (Keka...

Pengumuman pemenang Pilpres 2014 pa...

Israel Maling, Te...

Dunia tidak boleh membiarkan Israel...

Dekonsolidasi Dem...

Realisasi agenda ketiga konsolidasi...

Lentera Ramadhan

Diskriminasi Gaji...

...negara secara kentara hanya memb...

Titik Lemah (Keka...

Pengumuman pemenang Pilpres 2014 pa...

Israel Maling, Te...

Dunia tidak boleh membiarkan Israel...

Dekonsolidasi Dem...

Realisasi agenda ketiga konsolidasi...

Banner
Salam Hormat Pada Guru
Articles | Opini
Written by Edy Rachmad on Tuesday, 29 November 2011 04:08   
Share
Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru.

Siapa yang berhak mendapatkan hormat pada kehidupan manusia. Jawabannya pastilah guru. Gurulah yang menciptakan peradaban pada diri setiap manusia. Dunia ini akan gelap, penuh dengan manusia yang tidak bermoral dan penuh dengan kebodohan jika guru tidak hadir sebagai pembuat perubahan.

Oleh sebab itu penghormatan kepada guru bukanlah penghormatan yang dibuat buat sebagaimana penghormatan yang diberikan pada setiap petinggi masyarakat yang kita hormati. Penghormatan pada guru adalah penghormatan sejati yang muncul dari hati sanubari anak didik yang telah menikmati arti dari perubahan peradaban itu.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang maju secara moral dan maju dalam berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi dan pertahanan dsb). Mereka tidak mudah goyah dengan pengaruh kehidupan bangsa lain. Mereka mempunyai identitas diri. Mereka bangsa yang kokoh yang menjadikan peradaban sebagai tonggak dalam kehidupan.

Merekapun mempunyai ketahanan yang kuat, yang memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai serta percaya diri tinggi. Ini semua muncul dari hasil jerih payah para guru.

Peran guru didalam menciptakan peradaban bukanlah sekadar melakukan transformasi ilmu dan teknologi. Yang lebih pokok daripada itu adalah transformasi nilai nilai kehidupan pada anak didiknya.

Guru memberikan penerangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika) dan gurupun memberikan penerangan tentang aturan hidup bermasyarakat. Guru juga memberi bekal hidup diatas bumi ini dan di hari akhir nantinya (akhirat). Tanpa peran ini manusia akan kembali hidup pada jaman batu karena pada dasarnya manusia tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri tanpa peran guru sebagai pembimbing peradaban.

Penciptaan fundamental moral kehidupan agar manusia menjadi beradab adalah hasil kerja para guru. Di atas fundamental inilah transpormasi ilmu dan teknologi diletakan. Tanpa fundamental yang kokoh maka ilmu dan teknologi yang ditransferkan kepada anak didik justru akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Derajat setiap guru adalah sama. Dan janganlah kita berpandangan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula derajat gurunya. Ini pandangan yang keliru yang berjalan selama ini. Pandangan yang keliru ini berdampak pada penghargaan yang berbeda pada para guru. Seharusnyalah pandangan ini diluruskan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah negara ini.

Justru pendidikan moral kehidupan itu berada pada jenjang pendidikan awal. Mendidik anak pada awal pendidikan (taman kanak kanak dan sekolah dasar) tidaklah semudah seorang guru (dosen) yang mentransferkan ilmunya pada anak didik (mahasiswa). Perbedaannya terletak pada transfer moral kehidupan yang diberikan oleh para guru kepada anak didik dengan transfer ilmu dan teknologi yang diberikan oleh para dosen pada mahasiswa. Transfer moral kehidupan jauh lebih sulit karena ia sesuatu yang tidak dapat terlihat tapi dapat dirasakan yang muncul dari sepak terjang anak didik itu.

Kita harus menjadikan pendidikan moral sebagai landasan bagi pendidikan berikutnya. Kegagalan dalam jenjang berikutnya tidak terlepas dari pendidikan moral yang pernah diperoleh murid didalam pendidikan awal, yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah kehidupan.

Demikian juga dengan menyimpangnya sikap anak didik dari moral yang telah ditanamkan pada dirinya, setelah ia menyelesaikan pendidikannya, juga merupakan hasil pendidikan moral yang berjalan tidak sempurna. Begitu pentingnya pendidikan moral kehidupan bagi setiap anak manusia.

Guru dalam jenjang pendidikan awal adalah motivator bagi anak didik, bagi kemajuan anak didik di dalam pendidikan berikutnya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awal pendidikan yang ditanamkan adalah pendidikan moral yang dijadikan landasan pada jenjang pendidikan berikutnya.

Namun semakin tinggi jenjang pendidikan itu pendidikan moral secara perlahan mulai ditinggalkan dan beralih kepada transformasi ilmu dan teknologi. Selama pendidikan moral telah ditanamkan secara kokoh maka tidak akan ditemukan hambatan di dalam mentransformasikan ilmu dan teknologi tersebut. Anak didik sudah terbiasa bagaimana harus bersikap di dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

Beberapa hari lalu para guru melaksanakan perayaan hari guru. Kita bersyukur sekaligus terharu karena di tengah kegembiraan itu terselip berita bahwa nasib para guru belum menyentuh kehidupan yang wajar. Di daerah pedalaman ada guru yang hidup, yang jika dihitung secara ekonomi, tidak mungkin dapat menghidupi anak dan isterinya. Mereka berpendapatan lebih kecil dari pendapatan para pekerja kasar yang hidup di daerah perkotaan.

Ini sungguh memprihatinkan. Masyarakat seharusnya malu dengan keadaan ini. Para guru telah menerima beban “pendapatan” yang rendah dan menerima beban “penghargaan” yang juga rendah.

Para guru berdemonstrasi tapi entah kemana arah demonstrasi itu ditujukan tidak jelas. Kita terenyuh karena tidak ada masyarakat yang merasa malu atas demontrasi ini. Masyarakat tidak merasa berdosa telah memperlakukan guru seperti saat ini. Padahal anak bangsa ini telah diadabkan menjadi manusia yang berperadaban yang akan menyelamatkan kehidupan anak di atas bumi maupun diakhirat nantinya. Sikap masyarakat seperti ini adalah pengaruh telah bergesernya filosofi kehidupan humanisme kepada filosofi kehidupan materiel/kebendaan. Mereka mengukur segalanya berdasarkan kebendaan seperti yang diajarkan dalam kehidupan ekonomi kapitalis.

Guru mereka jadikan sebagai alat produksi yang “diupah” sebagaimana hasil yang diperoleh secara nyata. Padahal hasil kerja guru itu tidak terlihat namun dapat dirasakan. Masyarakatpun tidak merasa berkewajiban untuk mendukung ajaran ajaran yang diberikan kepada anak didik di sekolah karena telah membayar upah guru. Terjadilah benturan antara ajaran di sekolah dengan di rumah.

Inilah wajah masyarakat kita saat ini yang tidak memiliki pikiran maju dan tidak memandang jauh ke depan. Masyarakat banyak yang belum paham apa peran guru dalam kehidupan. Sementara pemerintah sendiri menganggap masyarakat sudah mengetahuinya. Terjadilah dilemma seperti ini.

Namun sikap inipun ditanggapi oleh para guru dengan senang hati, terus mengabdi dan membuat perubahan terhadap anak didiknya. Mereka belum terpengaruh dengan pemikiran kapitalis dan cenderung memilih sikap humanis. Perlakuan yang mereka terima saat ini adalah resultante dari masyarakat yang tidak memiliki keperdulian kepada peradaban walau masyarakat mengakui dirinya telah memiliki peradaban. Sungguh memprihatinkan.

Pemerintah tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut jika bangsa ini hendak dijadikan bangsa yang berdaya saing tinggi mengimbangi bangsa bangsa lainnya. Tak ada daya saing yang kokoh tanpa pendidikan. Tak ada bangsa yang dapat bertahan diatas bumi tanpa memiliki peradaban.

Akhirnya kami atas nama anak didik yang telah menikmati hasil didikan para guru mengucapkan terima kasih atas jerih payah para guru yang telah mengadabkan diri kami. Kami tak pernah melupakan peran guru dari tingkat terendah sampai tertinggi. Tanpa guru kami tidak akan pernah diperhitungkan didalam kehidupan ini. Salam hormat kami pada para guru. ***** ( Bachtiar Hassan Miraza : Penulis adalah Guru Besar Emeritus USU, Pemerhati Ekonomi. )



Tags: Opini  
 

Internasional

Tradisi Marjambar Di Sipir...

Marjambar berasal dari bahasa sub Batak Angkola Sipir...

Diskriminasi Gaji Ke-13...

...negara secara kentara hanya memberikan jaminan kes...

Titik Lemah (Kekalahan) Pr...

Pengumuman pemenang Pilpres 2014 pada Selasa (22/7) m...

Israel Maling, Teriak Mali...

Dunia tidak boleh membiarkan Israel mengumbar nafsu a...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada