Top Stories

Masalah Islam

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasarkandata dan masalah yang benar-benar memerlukan jawabandemi maslahat Islam Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasarkandata dan masalah yang benar-benar memerlukan jawabandemi maslahat Islam Saat mulai membaca karya Prof Dr Syahrin Harahap, MA, Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna (April 2016), saya langsung berpikir sesuatu yang saya anggap sangat mendasar. Yakni kadar keterterimaan Islam sebagai jalan hidup bagi orang yang mengaku dirinya sebagai Muslim atau di luarnya, beserta segenap konsekuensinya. slam bukan menjadi jalan hidup bagi penganutnya saja ,tetapi juga menyelamatkan seluruhnya, sebagaimana secara propagandis sering diwartakan dengan terminologi rahmatanlil-alamin. Saya juga sangat menyadari bahwa soal kesalah fahaman terhadap Islam adalah cerita lama saja yang terus-menerus diperbaharui oleh bukan hanya orang, tetapi kekuatan media yang menopang pekerjaan khusus dari pihak anti Islam (Kutub, 1964; Mohammad,1996). Hasil dan dampaknya berbeda berdasarkan sasarannya, Muslim dan non muslim. Saya sama sekali tidak pernah cemas akan lebih banyak orang murtad dari Islam (Helmidjas, 2013) dengan pemahaman yang baik terhadap agama lama dan agama barunya secara komparatif. Saya hanya cemas jika makin banyak terbawa nasib yang tak terperbaiki oleh sistem sehingga secara terpaksa murtad mengikuti kelicikan petugas-petugas agama lain (Miller, 2015). Perang yang dirancang dan digencarkan seolah lebih manusiawi dan bermartabat ini saya yakin berlangsung terus sangat serius, dan kiranya tak dapat dilawan kecuali hanya dengan cara atau perang yang mereka inginkan sendiri. Tak Sekadar Takdir Merenungi QS at-Taubah : 32, sesekali saya jatuh pada pemahaman apologetik,bahwa Allah menjaga Islam sampai akhir zaman. Bukan dakwah yang serius, yang menyamai kecanggihan propaganda agama lain dan dengan segenap kolaborasinya, yang membuat trend populasi dunia dan kualitas kemusliman yang semakin baik. Saya yakin tak sedikit orang berpikir seperti ini sambil diam tak memiliki gagasan penyelamatan warga Muslim yang dijerat kemiskinan dihampir semua desa tertinggal dan di semua kota besar yang beringas menindih dan meluluhlantakkan orang Muslim miskin demi satu kata “pembangunan”. Saya curiga ini bukan hanya apologi semata. Boleh jadi sudah berubah menjadi penyakit khas orang-orang kalah dengan beban ganda yang bertambah setiap hari. Bayangkanlah, bagaimana gerangan orang yang akut menderita penyakit khas ini akan memikirkan kemiskinan sendiri (negeri sendiri) dan kemungkinan ide apa yang akan dia berikan seketika menyadari fakta betapa buruknya perlakuan China terhadap Muslim Uyghur, jenis kejahatan di Filipina terhadap muslim Moro, corak kebrutalan Thailand terhadap Muslim Pattani, model kesadisan para Biksu di bawah kendali Ashin Wirathu yang berselera keras membunuh Muslim Rohingya, Palestina yang tak tentu nasib, dan lain sebagainya. Bagaimana orang dengan penyakit khas ini memikirkan kegesitan sikap negara besaryang mendikte Indonesia dalam kebijakan Global War on Terrorism yang kejam itu sedangkan ia jauh dari bersintuhan sistem nasional negaranya dan sistem internasional dan menyuarakannya secara lantang dalam protes keras di lembaga dunia seperti PBB. Padahal di depan hidungnya ada masalah yang tampak remeh tetapi sangat krusial. Misalnya rencana pendirian masjid Raya di Sarulla, Tapanuli Utara yang disandera begitu lama untuk tidak boleh berdiri, atau pengembalian masjid yang diruntuhkan secara kejam oleh para pengembang di kota besar seperti Medan. Orang dengan penyakit khas ini sangat bermasalah dalam peta kosmologi, untuk tidak mengatakannya tak memiliki peta kosmologi yang jelas. Sanggupkah ia memilah masalah untuk secara simultan memikirkan perlawanan atas brutalitas kapitalisme dan kekejakan neoliberalisme pengelolaan negara yang semakin kejam sambil meneteskan airmatanya (berkorban) untuk perubahan sikap terhadap orang miskin yang jangankan dibayangkan untuk mampu membayar iyuran BPJS bahkan untuk ditampung negara dalam catatan penduduk saja tidak dapat dipastikan. Orang-orang dengan penyakit khas ini akan sangat menderita memilih atau mengorganisasikan masalah dalam benaknya untuk membuat segalanya itu berada tak lagi jelas di luar jangkauannya baik oleh pembayangan maupun oleh penyikapan, apalagi tindakan efektif. Mestinya dia harus percaya bahwa tuhannya menurunkan Adam bukan sendirian selamanya sebagai khalifah dengan keabadiannya pula. Tetapi memerlukan penerusan misi risalah, moral dan tata hidup keagamaan kesejagatan. Menelaah daftar isi buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna, saya teringat data kesejagatan yang dikonstruk kekuatan moral intelektual dunia dengan segenap maksud dan tujuannya. Ini sebuah contoh saja. Bahwa mengiringi terus gencarnya pemberitaan tentang kelompok militan ISIS dan pengungsi Syria serta perselisihan sengit lainnya yang terus terjadi di Timur Tengah. Tahun lalu saya teringat Pew Research Centre (PRC) yang mewartakan tajamnya keterbelahan pandangan Muslim tentang hubungan yang seharusnya antara ajaran Islam dan hukum positif (2015). Ternyata di 10 negara dengan populasi Muslim signifikan, terdapat perbedaan mencolok meyakini sejauh mana orang berpikir Alquran harus memengaruhi hukum. Pendidikan Agama Dari telaahan halaman buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna, saya ingin berkata kepadanya bahwa temuan survei PRC itu juga menjelaskan umumnya orang lebih berpendidikan (makin tinggi) cenderung berpendapat sekularistik: hukum tidak harus mengikuti Alquran. Saya ingin beritahu sesuatu yang saya yakin diketahui juga oleh Prof Dr Syahrin, MA, bahwa sebagian mereka tidak percaya nilai compabilitas (kesesuaian) Alquran dengan tuntutan dan kompleksitas dunia modern. Agama adalah agama, sesuatu yang domainnya pada hubungan hamba tuhan dan peribadatan, titik di situ. Sedangkan hukum, ekonomi, politik dan lainnya bukan urusan agama dan aneh jika mesti dikaitkan dengan Alquran. Di Nigeria misalnya, 48 persen sample berpendidikan menengah atau lebih mengatakan Alquran tidak harus memengaruhi hukum, dibandingkan 29 persen diantaranya yang hanya sempat mengenyam pendidikan menengah ke bawah. PRC tidak mengeksplorasi memuaskan mengapa di banyak negara berpenduduk Muslim signifikan seperti itu menguat perbedaan pendapat tentang masalah ini. Di Pakistan, wilayah Palestina, Yordania, Malaysia dan Senegal, setengah atau lebih dari populasi mengatakan hukum di negara mereka harus  ketat mengikuti Alquran. Tetapi tidak di Indonesia, Burkina Faso, Turki dan Lebanon. Ini tidak dapat dijelaskan sama sekali dengan hanya menyebutnya sebagai gejala yang mengiringi meningkatnya pendidikan. Apalagi dengan hanya menyebut bukti bahwa di Nigeria 42 persen Muslim berpikir hukum seharusnya tidak dipengaruhi Alquran, sedangkan 27 persen lainnya menganggap sebaliknya. Jika PRC bersedia, dan ini baik untuk semua, seharusnya survei dilakukan menyeluruh dengan melepaskan batas teritorial (negara dan kawasan). Mereka harus menyamakan semua orang untuk dimintai pendapat tentang masalah ini, termasuk Muslim di negara maju (Amerika, Inggris, Jerman,Prancis dan lain-lain). Sebagai reaksi final setelah membaca halaman terakhir buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” saya segera ingin meng-jak Prof Dr Syahrin Harahap, MA untuk menegaskan sikap bersama. Bahwa penjauhan diri dari agama dengan pemilahan yang sangat sekularistik yang terjadi di sini adalah masalah mendasar yang awalnya ada pada pendidikan kita. Ada tautan kuat yang sengaja diputus antara agama dan ilmu, dan sejarah harus kita perbaiki lagi dengan kritis. Kapitalisme berperan penting di sini, dan untuk Indonesia masalahnya sangat kompleks dengan kesenjangan sangat parah berkat peran istimewa dan sangat dominan minoritas suku bangsa China. Mendapatkan gambaran baru untuk design masa depan tidak berhenti pada kosademi kosa kata serta forum demi forum yang tak membumi ke relung kehidupan si Samindan di Ulong. Mungkin Prof Dr Moshe Sharon (2013) harus didengarkan berulang-ulang, bahwa pilihan kosa kata dan diksi di dunia lain, semaju apa pun dan seberwibawa apapun itu dipandang, tidaklah sesuatu yang serta merta kita perlukan di dunia kita. Kita harus melawan. Karena mereka telah mengisi semua itu bukan hanya dengan persepsi, tetapi dengan nilai kaku khas subjektif mereka yang tak mungkin berdamai dengan kehidupan kita. Saya ingin menawarkan satu hal, dan inisaya tegaskan sebagai sesuatu yang berada jauh di luar buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna. Seberapa seriuskah kita mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu turunannya serta ilmu lain yang harus ditundukkan kepadanya kepada generasi kita. Pertanyaanya bisa juga masuk ke kebijakan, berapa jumlah kitab suci Alquran yang diproduksi dan sudahkah sesuai jumlah keluarga dan orang yang secara resmi dinyatakan sebagai Muslim. Siapakah guru yang mengasuh jamaah, seberapa faham ia akan fungsi dan informasi Alquran. Adakah mereka pemeran kaku sistem kependetaan dalam tradisi Roma yang tak perlu bersintuhan secara interaktif dengan umat mayoritas. Karena lebih menikmati keartisan dalam promosi agama sebagai komoditi yang ditopang oleh hegemoni media, sesuatu tentang guru-guru ini harus direformasi. Ketegangan hubungan antar kelas dalam khazanah pengajaran Islam sudah lama menjadi masalah. Orang di atas menikmati kelasnya dengan kehangatan perlakuan negara, sedangkan orang di bawah menjalani misi dengan penuh keluhan. Sayangnya orang di atas dan orang di bawah saling merasa sangat yakin memaknai posisinya sebagai penuh ridho dari ilahi. Keduanya harus dibawa ke zona perdamaian.  Penutup Meski tak membuat judul pembahasan khusus, buku Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna mengandung semangat modernitas, dan saya kira itulah tawaran diarus utamakan buku ini. Saya yakin hanya soal pilihan taktis agar tak dituduh anti peradaban universal dan incompabilitas dengan dunia modern. Ketika membahas konsep Islam rahmatanlil’alamin, misalnya, terasa perlu keluar dari tafsir yang dikonstruk oleh kekuatan campuran (baik yang menginginkan Islam sebagai jalan hidup maupun yang menginginkan sebaliknya atau yang berada di antara keduanya). Islam itu tak benar diterjemahkan satu sisi dari yang dipentingkan dalam urgensi yang sesaat. Memberi tafsir tunggal tentang jihad, ini sebuah contoh paling populer, sebagai perang berdarah, sebagaimana diinginkan kekuatan dunia yang kini bekerja keras menggerakkan Global War on Terrorism dengan agenda tersembunyinya, jelas harus ditolak. Begitu juga tentang ungkapan yang makin ditakuti umat Islam sendiri seperti fundamentalisme, radikalisme dan lainnya. Adalah benar Islam agama damai. Tetapi bagaimana menjelaskan sekian banyak perang yang langsung dipimpin Rasulullah Muhammad SAW (Al-Baqarah Ayat 190 dan Al-AnfaalAyat 61) ? Itu bukan ekspresi dan implementasi konsep rahmatan lil alamin? House of Salam, kata Prof Moshe Sharon (2003), adalah konsep abadi yang tidak tunduk kepada konsep apa pun meski akan dianggap illegal oleh sistem yang ada. Damai? Ya Islam sangat siap menjadi prakarsawan untuk itu. Perang? Agama ini bukan agama perang, tetapi tak mungkin tak berperang dengan segenap tantangan dan ancaman yang dihadapinya. Karena itulah, mungkin cukup sulit disepakati di antara pemikir Islam, seruan yang diikuti dengan sikap yang benar untuk memaksa kekuatan dunia agar ketidakdilan dan kemiskinan tidak diabadikan. Hentikan Global War on Terrorism itu, karena anak-anak yang sedang belajar mengeja namanya sendiri pun kini sudah tahu agendanya yang membahayakan eksistensi kemanusiaan global. Saya merasakan buku Prof Dr Syahrin Harahap, MA berusaha memberi perhatia nyang mencerahan di sekitar itu. Ke depan,saya ingin menyarankan kolega saya inimembuat peta kajian baru berdasarkan hipotesis yang dibangun berdasarkan data dan bpermasalahan yang memang benar-benar memerlukan jawaban demi maslahat Islam.  

Ide Dalam Pembangunan
Kartini: Kontroversi Vs Emansipasi
Inflasi Di Balik Kebijakan
Tembakau Deli, Dulu Hingga Kini

Opini

Buruh(Ku), Buruh(Mu), & Buruh(Kita)?

Minimnya peran negara sebatas sebagai pengatur berdampak pada pengabaian kesejahteraan rakyat ...

Fadhil Lubis Dan Hukum Islam

Dalam berbagai diskusi hukum Islam, seringkali terjadikesalahpahaman yang diakibatkan tidak tuntasny...

Masalah Islam

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petakajian baru atas hipotesis yang dibangun berdasar...

Ide Dalam Pembangunan

Dalam istilah Gramci, perubahan fundamental dalam ide merupakan produk dari penggantian” blok histo...

Kartini: Kontroversi Vs Emansipasi

...Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya terlebih dahulu direkayasa J.H. Abendanon. Beberapa ka...

Inflasi Di Balik Kebijakan

Pemotongan anggaran belanja pada beberapa kementeriandan badan tidak dapat dianggap enteng, dampakny...

Tembakau Deli, Dulu Hingga Kini

Pesatnya pertumbuhan industri perkebunan Tembakau Deli, juga telah memberi kontribusi pada pembangun...

Mimbar Jumat

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Lentera

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Lentera Ramadhan

Buruh(Ku), Buruh(...

Minimnya peran negara sebatas sebag...

Fadhil Lubis Dan ...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam,...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ...

Ide Dalam Pembang...

Dalam istilah Gramci, perubahan fun...

Banner
Kejahatan Hakim
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Saturday, 13 July 2013 07:07   
Share

 

 

"Hakim yang terbukti sah dan berkuatan hukum telah melakukan pelanggaran kejahatan, pantas dikenakan sanksi berat."

Seorang hakim dalam menjalankan tugas yudisial maupun dalam perilaku kesehariannya sudah diatur dalam satu aturan yang baku. Artinya, hakim yang melakukan pelanggaran aturan dan pedoman itu adalah masuk kategori hakim jahat dan telah melakukan  kejahatan. Seorang hakim jelas dan tegas bukan lagi seorang anak kecil.Harian Umum Nasional Waspada edisi Sabtu,15 Juni 2013 pada berita utamanya menampilkan judul berita yang membuat pembacanya berdecak, “Sumut Peringkat III Hakim Nakal”.  Komisioner Komisi Yudisial (KY) Taufiqurrahman Syahuri ketika berada di Medan mengatakan, banyak sekali hakim nakal di Indonesia. Sumatera Utara berada diperingkat tiga setelah Jakarta dan Surabaya.

Pernyataan ini cukup mencengangkan kita. Ternyata apa yang sudah diputuskan dan diperbuat para hakim di daerah ini, sangat diragukan kemurniannya.  Kata nakal, menurut kamus Bahasa Indonesia yang ditulis Muhammad Ali,diterbitkan Pustaka Amani Jakarta,halaman 265, berarti: suka berbuat kurang baik, tidak menurut, mengganggu,terutama untuk anak-anak,buruk kelakuannya.Jika menilik pengertian ini, nakal adalah perbuatan yang kerap dan menjadi hal wajar dilakukan oleh anak-anak.Hal itu tentu berbeda kalau disebutkan jahat atau kejahatan, yang dalam Kamus Bahasa Indonesia di halaman 139 , jahat adalah perbuatan yang sangat tidak baik,buruk, jelek, perbuatan dan kelakuannya, tabiatnya penjahat, orang jahat seperti pencuri, pembunuh dan sebagainya.

Menurut Taufiqurrahman Syahuri,KY sudah bertindak tegas pada hakim nakal itu,tetapi tetap saja masih banyakyang nakal. Sedikitnya 20 hakim nakal sudah diberi sanksi tegas. Bahkan sebanyak delapan hakim nakal tersebut diberikan sanksi diberhentikan secara tidak hormat melalui mekanisme sidang ketuk palu. Di antara bentuk-bentuk kenakalan para hakim itu, katanya, seperti terlibat kasus suap, penipuan, susila atau perselingkuhan.Pertanyaan kita, apakah tindakan suap, penipuan, susila atau perselingkuhan seperti yang dimaksudkan Taufiqrurrahman Syahuri itu, adalah tindakan nakal, bukan tindakan dan perbuatan itu masuk dalam kategori jahat(kejahatan).

Bukankah suap, penipuan atau tindakan susila, itu dilakukan oleho rang dewasa (baca : bukan perbuatan anak-anak). Maka, seharusnya saya pribadi tidak setuju kalau tindakan dan perbuatan hakim yang melakukan suap,penipuan dan susila itu dikatakan tindakan  nakal. Tetapi kita setuju, perbuatan hakim itu adalah kejahatan.

Wakil Tuhan Di Bumi Hakim adalah satu profesi (pekerjaan) mulia, sehingga dia disebut officium nobile . Selama ini diyakini, hakim adalah wakil Tuhan di muka bumi. Kalimat terakhir, hakim selaku wakil Tuhan di muka bumi, membuat perasaan saya merinding. Betapa agung, mulia dan terhormatnya seorang hakim. Sehingga,apapun yang diputuskan dalam keputusan perkara di pengadilan, akan dihormati. Karena putusan hakim itu adalah keputusan Tuhan. Nah, bagaimana dengan kondisi dan profesi hakim saat ini. Masihkah kita percaya dengan keputusan yang diputuskannya di pengadilan? jawabnya kembali kepada kita masing-masing.

Tenaga ahli dan juru bicara Komisi Yudisial, Asep Rahmat Fajar pada acara pelatihan penguatan pola komunikasi lembaga negara dengan media massa bekerjasam dengan USAID di Medan,Selasa (11/6) mengatakan, tahun 2012,KY menerima 1. 520 laporan. Sebanyak 131 di antarnya adalah laporan dan pengaduan masyarakat di Sumut.Tahun 2013, sampai Juni, laporan pengaduan yang masuk ke KY sebanyak 850 berkas dan untuk laporan pengaduan dari masyarakat Sumut sebanyak76 laporan. Di antaranya 40 laporan pengaduan datang untuk kejahatan hakim di Medan, dan satu laporan sudah direkomendasikan untuk memberikan sanksi kepada seorang hakim di daerah ini.

“Banyak yang dilaporkan oleh masyarakat ke KY, tidak hanya profesionalisme hakim melainkan integritas, maupun sikap tidak adil hakim. Pengaduan yang paling banyak adalah tindak kejahatan hakim dalam memutuskan satu perkara adalah soal ketidakadilan,”katanya.

Keputusan Bersama MA Dan KY Pengadilan yang mandiri, netral(tidak memihak), kompeten, transparan,akuntabel dan berwibawa yang mampu menegakkan wibawa hukum, pengayoman hukum, kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Pengadilan sebagai pilar utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta proses pembangunan peradaban bangsa.Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap keluhuran nilai kemanusian menjadi persyaratan tegaknya martabat  dan integritas negara. Dan hakim sebagai aktor utama atau figure sentral dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah kepekaan nurani, memelihara integritas, kecerdasan moral dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi masyarakat banyak.

Semua wewenang dan tugas yang dimiliki seorang hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu,tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal Kejahatan Hakim sumpah seorang Hakim "setiap orang sama kedudukannya di depan hukum".Wewenang dan tugas hakim yang sangat besar itu menuntut tanggung jawab tinggi. Sehingga putusan hakim yang diucapkan dengan irah-irah ‘Demi Ke-adilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’ menunjukkan kewajiban menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggng jawabkan,baik secara horizontal kepada semua manusia dan secara vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mewujudkan suatu pengadilan sebagaimana disebutkan di atas,perlu terus diupayakan tugas pengawasan serta internal dan ekternal oleh Mahkamah Agung RI dan Komisi Yudisial RI.Kewenangan dan tugas pengawasan itu di orientasikan untuk memastikan, bah-wa semua hakim sebagai pelaksana utama dari fungsi pengadilan itu berintegratitas tinggi, jujur dan profesional,sehingga memperoleh kepercayaan dari masyarakat pencari keadilan.

Salah satu hal penting yang menjadi sorotan masyarakat untuk percaya dan mempercayai hakim adalah perilaku dari hakim. Baik dalam menjalankan tugas yudisialnya maupun dalam kesehariannya. Sehingga hakim dituntut selalu menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta etika dan prilaku yang dilambangkan kartika,cakra dan candra.

Dalam rapat kerja Mahkamah Agung RI pada 2002 di Surabaya merumuskan 10 prinsip pedoman perilaku yang wajib dilaksanakan Hakim. MA menerbitkan pedoman perilaku hakim melalui surat keputusan MA. RI No.KMA/104A/SK/XII/2006tanggal 22 Desember 2006. Dan tentang pedoman perilaku hakim dengan surat keputusan Ketua MA No.215/KMA/SKXII/2007 tanggal 19 Desember 2007 berisi tentang petunjuk pelaksanaan pedoman perilaku hakim Selain itu KY telah pula menyusun kode etik dan pedoman perilaku hakim seluruh Indonesia seta pedoman bagi MA dalam melaksanakan fungsi pengawasan internal maupun eksternal. Keputusan itu selanjutnya dituangkan dalam buku Keputusan Bersama Ketua MARI dan ketua KY RI No.047/KMA/SKB/IV/2009, dan No.02/SKB/P. KY/IV /2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, tahun 2012.

Dalam buku itu jelas diuraikan, bagaimana seharusnya seorang hakim dalam melaksanakan tugasnya selaku pengambil keputusan hukum dan hakim berperilaku dalam kesehariannya. Prinsip-prinsip dasar dari kode etik dan pedoman perilaku hakim itu diimplementasikan dalam sepuluh aturan perilaku, yaitu (1). berprilaku adil, (2)berperilaku jujur, (3) berperilaku arif dan bijaksana, (4) bersikap mandiri, (5) berintegritas tinggi, (6) bertanggung jawab,(7) menjunjung tinggi harga diri, (8)berdisplin tinggi, (9) berperilaku rendah hati dan, (10) bersikap profesional.

Penutup

Dalam keputusan bersama Ketua MA dan Ketua KY tersebut ditegaskan,setiap pimpinan pengadilan harus berupaya sungguh-sungguh memastikan agar hakim di dalam lingkungannya mematuhi pedoman tersebut.  Pelanggaran terhadap pedoman dapat diberikan sanksi. Dan dalam menentukan sanksi yang layak harus dipertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan pelanggaran,yaitu latar belakang, tingkat keseriusan dan akibat pelanggaran terhadap lembaga peradilan ataupun pihak lain.Hakim yang diduga melakukan pelanggaran terhadap aturan pedoman itu,diperiksa Mahkamah Agung dan atau Komisi Yudisial yang selanjutnya menyampaikan hasil putusannya kepada ketua Mahkamah Agung.

Dari uraian ini, jelas kalau seorang hakim dalam menjalankan tugas yudisial maupun dalam perilaku kesehariannya sudah diatur dalam satu aturan yang baku. Artinya, Hakim yang melakukan pelanggaran aturan dan pedoman ituadalah hakim jahat dan telah melakukan kejahatan. Seorang hakim jelas dan tegas bukan lagi seorang anak kecil yang  logika kalau disebutkan nakal. Seorang hakim juga (ternyata) adalah manusia biasa. Sehingga, Harian Waspada dalam kolom Serampang-nya, soal sebutan (kalimat)nakal itu dengan kata menggelitik: Jangan nakal-nakal ya nak, He… he… he…Akhirnya kita sarankan agar hakim yang terbukti sah dan berkuatan hukum telah melakukan pelanggaran kejahatan,pantas dikenakan sanksi berat. Hal ini untuk mempertahankan wibawa peradilan dan jabatan hakim selaku wakil Tuhan dimuka bumi.

Oleh Rizky Amanah Putra Negara Siregar

Penulis adalah Wartawan HarianWaspada Di Pematang siantar, Tulisan IniAdalah Pendapat Pribadi Penulis.

 



Tags: Kejahatan Hak  
 

Internasional

Legenda Inflasi...

Tol laut, tol sumatera, gedung pencakar langit dan ja...

Buruh(Ku), Buruh(Mu), & Bu...

Minimnya peran negara sebatas sebagai pengatur berdam...

Fadhil Lubis Dan Hukum Isl...

Dalam berbagai diskusi hukum Islam, seringkali terjad...

Masalah Islam...

Saya ingin menyarankan kolega saya ini membuat petaka...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada