Opini

Pastikan Untuk Kebutuhan Jamaah Haji Seperti Hotel

Presiden Joko Widodo menginginkan dana haji yang tersimpan di pemerintah bisa diinvestasikan untuk p...

Pajak, Utang Dan Swasta Asing

Pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan pemerintah saat ini sudah tepat. Sayangnya volume pe...

Merawat Ingatan Tentang Sultan Aceh

Upaya-upaya untuk menyambut inspirasi dari Sultan Aceh itu yang mesti diterjemahkan oleh angkatan se...

Perda Halal: Harapan & Tantangan

Kelahiran Perda ini bisa disebut pada berada pada masa transisi, yakni antara menjelang keberlakukan...

Agama Dan Perilaku Modernitas

Tidak mungkin wahyu yang harus menyesuaikan diri dengan modernitas. Sebaliknya, modernitas yang har...

Polemik Dana Haji

Pengelolaan dana haji itu harus mematuhi prinsip syariah, artinya untuk kepastian hukum di luar prin...

Kemiskinan Di Indonesia

Kebijakan pemerintah yang salah mengatur negara dan anggaran, perilaku pribadi orang miskin, pertamb...

Mimbar Jumat

Pastikan Untuk Ke...

Presiden Joko Widodo menginginkan d...

Pajak, Utang Dan ...

Pembangunan infrastruktur yang seda...

Merawat Ingatan T...

Upaya-upaya untuk menyambut inspira...

Perda Halal: Hara...

Kelahiran Perda ini bisa disebut pa...

Lentera

Pastikan Untuk Ke...

Presiden Joko Widodo menginginkan d...

Pajak, Utang Dan ...

Pembangunan infrastruktur yang seda...

Merawat Ingatan T...

Upaya-upaya untuk menyambut inspira...

Perda Halal: Hara...

Kelahiran Perda ini bisa disebut pa...

Lentera Ramadhan

Pastikan Untuk Ke...

Presiden Joko Widodo menginginkan d...

Pajak, Utang Dan ...

Pembangunan infrastruktur yang seda...

Merawat Ingatan T...

Upaya-upaya untuk menyambut inspira...

Perda Halal: Hara...

Kelahiran Perda ini bisa disebut pa...

Banner
Gerakan Pemuda Al Washliyah Dalam Sejarah
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Saturday, 11 January 2014 09:12   
Share

Dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, GPA ikut serta dalam sebuah gerakan rahasia dalam merebut kekuasaan

Hari ini 73 tahun lalu, tepatnya 11 Januari 1941 lahir organisasi kepemudaan di lingkungan Al Jam’iyatul Washliyah disebut Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA). Kelahirannya tidak terlepas dari sikap juang dan jahadah para penggagas GPA.

GPA merupakan sketsa wajah Al Washliyah ke depan, karena generasi muda hari ini adalah regenerasi kepemimpinan Al Washliyah mendatang. Ini senada dengan apa yang pernah diungkapkan seorang pujangga Arab, Syekh Musthafa Al Ghulayani, Inna fii yadika al amra al ummati, wa fii iqdaa mikum hayaataha”, sesungguhnya di tangan pemudalah terletak segala urusan umat ini, dan di tangannya pulalah digantungkan keberlangsungan hidupnya.

Dengan demikian dapatlah dimaknai bahwasanya kehidupan generasi Al Washliyah mendatang tergantung bagaimana kehidupan GPA sendiri. Sebab itu GPA hari ini harus bangun dan bangkit dari lamunan yang mengakibatkan timbulnya penyakit tulul ‘amal panjang angan-angan.

Di saat usia GPA yang dewasa ini perlu memikirkan sekaligus mengaplikasikan sikap militansi kader dalam kehidupan berorganisasi maupun dalam kehidupan pribadi. Karenanya sikap militansi ini tercermin dari tingginya semangat juang mencapai asa dan cita yang diharapkan. Demikian juga halnya dengan GPA, untuk pengembangannya yang mengarah pada kehidupan pemuda yang lebih baik harus didasari semangat militansi tinggi. Sehingga tujuan mengamalkan ajaran Islam untuk terwujudnya pemuda yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT guna berperanaktif dalam pembangunan nasional, dapat terwujud nyata.

Dalam perjalanan waktu GPA terus berkiprah mengisi pembangunan sesuai amanah para pejuang, pendiri dan mujahid terdahulu. GPA terus berupaya menjadi organisasi pemuda mandiri, mampu berperan maksimal, lebih berdayaguna dan berhasil. GPA merupakan wadah pemuda Islam menyalurkan aspirasinya dalam pembangunan nasional.

GPA Dalam Sejarah

GPA secara fundamen didirikan saat kongres III Al Washliyah di kota Medan, 11 Januari 1941. Inilah tonggak sejarah awal berdirinya GPA, meskipun saat itu posisi pemuda Al Washliyah masih berada dalam lingkup majelis Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah. Ini dapat dilihat dari salah satu hasil keputusan kongres:

“Membangunkan Pemuda Al Djam’ijatul Washlijah menjadi Madjlis dari Pengurus Besar Al Djam’ijatul Washlijah. Kepanduan termasuklah didalamnja”. (Ketua Gerakan Pemuda Al Washliyah I adalah Adam Usman Tanjung).

Berdirinya GPA secara ruh telah lahir beberapa tahun sebelum kongres III. Ide dan cita-cita pendirian GPA itu sudah dirasakan pada kongres pertama Al Washliyah tahun 1936 di kota Medan. Karena ketika itu dirasakan pentingnya generasi muda Al Washliyah sebagai pelanjut dan penerus estafet usaha dan amal Al Washliyah. Setelah itu, ruh pendirian pemuda Al Washliyah ini diperkuat lagi dalam kongres II tahun 1938 juga di Medan.

Sejarah telah mencatat bagaimana sulitnya hidup pada zaman penjajah. Sulit dalam hal apa saja, bahkan sulit dalam hal mendapat mendapatkan sandang pangan, sulit menegakkan akidah dan keyaklinan. Seluruh rakyat Indonesia ketika itu merasakan bagaimana pahit dan kejamnya perlakuan penjajah terhadap rakyat Indonesia.
Meski getirnya kehidupan masa itu, tidaklah membuat pemuda Al Washliyah surut di tengah jalan, bahkan membuat semakin bersemangat dan motivasi yang menimbulkan militansi melaksanakan cita-cita perjuangan Al Washliyah.

Karenanya dalam buku Al Djam’ijatul Washlijah ¼ Abad menyebutkan empat hal perkembangan yang telah dilakukan Pemuda Al Washliyah, yaitu: Pertama, membangun cabang dan ranting di mana-mana. Anggota PP. Pemuda selalu mengadakan perjalanan keluar sehingga pada masa itu dapatlah didirkan Pemuda Al Washliyah di Sumatera Timur, Tapanuli dan Aceh.

Kedua, mengisi jiwa pemuda Islam agar bertanggungjawab terhadap diri maupun orang lain. Ketiga, menyadarkan pemuda Islam untuk tidak rendah diri berhadapan dengan pemuda lainnya, dan tidak berpangku tangan dalam kemajuan umat. Keempat, menggerakkan pemuda Islam agar turut serta menyumbangkan tenaganya untuk menjalankan usaha-usaha Al Washliyah.

Dalam hal mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, GPA ikut serta dalam sebuah gerakan rahasia dalam merebut kekuasaan dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan dari penjajah. Pemuda Al Washliyah merupakan salah satu kepemudaan yang membentuk gerakan rahasia dengan nama Barisan Pemuda Indonesia. Setelah itu dikerahkanlah seluruh pemuda Al Washliyah untuk bergabung dengan Barisan Pemuda Indonesia dimana saja berada.

Di balik itu juga ada satu momen penting bagi pemuda Al Washliyah dalam menentukan dan menegakkan NKRI di Sumatera Utara. Saat sesudah agresi kedua, bulan Desember 1948 adanya keinginan sebagian komponen bangsa yang ingin mendirikan Negara Sumatera Timur (NST). Untuk itu pemuda Al Washliyah ikut serta dalam Kongres Rakyat untuk menentukan dan memutuskan hidup tidaknya NST. Atas semangat NKRI, maka para mujahid Pemuda Al Washliyah ikut menggiring kembali kepara NKRI.

Paling tidak ada dua hal yang perlu kita ingat dari para pejuang dan mujahid Pemuda Al Washliyah terdahulu: Pertama, semangat jihad tinggi menegakkan amar ma’ruf  nahi munkar. Mereka berjuang dan berjihad tidak mengenal lelah dan sulit, baik di kala ada maupun tiada. Kedua, militansi para pejuang dan mujahid Pemuda Al Washliyah terdahulu harus tetap dimiliki oleh GPA saat ini dan akan datang.

Untuk itu jadilah Pemuda Al Washliyah yang berguna dengan memiliki kualitas hidup. Sebab tidak seorang pun yang tidak berguna di dunia ini selama ia mampu meringankan beban orang lain dan tidak menjadi beban masyarakat. Akhirnya dengan semangat juang dan jihad fi sabilillah saya ucapkan dirgahayu ke 73 GPA, semoga tetap jaya zaman berzaman.

Bicara mewujudkan militansi kader GPA, maka ada dua hal yang perlu menjadi fokus perhatian.Pertama, berani. GPA harus berani menghadapi apapun, selagi itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Berani mengatakan yang benar adalah suatu keharusan bagi kader GPA, karena terkadang untuk mengatakan kebenaran itu terasa berat dan kesat ketika hendap terucap.

Di zaman teknologi informasi sekarang, maka GPA harus berani memanfaatkannya. Karena kalau tidak berarti akan tenggelam dan tergilas dimakan zaman. Sebaliknya kalau GPA terlalu berani sehingga melebihi batas-batas norma agama, maka dapat menimbulkan kekufuran yang menyesatkan. Karenanya GPA harus berani menghadapi fase-fase zaman yang begitu cepat berubah dan harus konsisten serta berorientasi pada hasil (result oriented).

Kedua, terlatih. Pada prinsipnya, GPA sebagai wadah latihan bagi generasi muda khususnya pemuda Al Washliyah. Meskipun demikian kader GPA harus benar-benar terlatih dalam hal apapun. Terlatih dalam melaksanakan ibadah, terlatih dalam berbuat kebajikan, terlatih dalam melaksanakan amanah. Dengan itu GPA dapat secara perlahan mencapai militansi kader yang diharapkan.

Oleh H. Isma Padli A.Pulungan, SAg, SH, MH

Penulis adalah Ketua GPA Sumut, Ketua Komisi C DPRD Sumut.



 

Internasional

Rebut Medali Sebanyaknya J...

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memi...

Pastikan Untuk Kebutuhan J...

Presiden Joko Widodo menginginkan dana haji yang ters...

Pajak, Utang Dan Swasta As...

Pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan pemer...

Merawat Ingatan Tentang Su...

Upaya-upaya untuk menyambut inspirasi dari Sultan Ace...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada