Top Stories

Menjerat Korupsi Lintas Negara
Menjerat Tindak Pidana Korporasi
Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
NU 91 Tahun

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera Ramadhan

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Banner
Bunga Bank Hambat Munculnya Wirausahawan Baru?
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Tuesday, 31 January 2017 07:53   
Share

Dalam konsep ekonomi Islam menekankan pentingnya investasi sektor riil, karena pada dasarnya ekonomi Islam adalah ekonomi riil

Kemakmuran suatu negara ditentukan salah satunya oleh banyaknya pengusaha. Idealnya jumlah pengusaha 5 persen dari total penduduk. Negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman punya jumlah pengusaha lebih dari 5 persen. Bagaimana dengan kita? Pada 2015, jumlah pengusaha di Indonesia hanya 1,65 persen dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa, sementara Singapura mencapai 7 persen, Malaysia 5 persen dan Thailand 3 persen.

Banyak faktor mempengaruhi, di antaranya kurangnya minat masyarakat menggeluti dunia bisnis. Di Indonesia, sektor kewirausahaan atau bisnis dikuasai segelintir orang terutama WNI keturunan China, mereka menguasai berbagai sektor bisnis seperti perbankan, perkebunan, konstruksi, jasa, perbankan, peternakan, garmen dan lain-lain. Mereka juga menguasai jalur distribusi dan industrialisasi baik hulu maupun hilir.

Kenapa Muslim sebagai representasi pribumi di tanah air tidak banyak tertarik menggeluti dunia usaha? Ini bisa disebabkan di antaranya kultur keluarga yang tidak mendukung dalam berwirausaha, sistem pendidikan yang hanya menyiapkan mengisi lowongan pekerjaan. Tidak kalah pentingnya adalah peran agama (ulama/ustadz) yang kurang menanamkan jiwa kewirausahaan dalam kehidupan umat Islam. Padahal Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan adalah seorang capital owner sejak usia 37 tahun.

Untuk memasuki dunia bisnis memang tidak mudah jika tidak direncanakan dengan baik, butuh mentalitas yang kuat. Semangat saja tidak cukup memulai bisnis, butuh bimbingan, arahan dan support dari orang yang berpengalaman. Sayangnya masyarakat Indonesia khususnya kaum Muslim lebih suka menjadi pekerja dibandingkan membuka usaha. Ditambah lagi prinsip kuno masyarakat Jawa pada khususnya yang dikenal dengan mangan ora mangan seng penting ngumpul (makan ataupun tidak makan yang penting bisa kumpul bersama). Belum lagi celetukkan tetangga yang kadang membuat merah telinga para sarjana yaitu untuk apa sekolah tinggi, kalau cuma membuka usaha bakso.

Rilis terbaru daftar 10 orang terkaya di Indonesia majalah Forbes 2016, nomor satu terkaya Budi Hartono, pengusaha rokok keturunan China. Kekayaannya 8,3 miliar dolar AS [Rp110 triliun]. Nomor dua ditempati adiknya, yaitu Michael Hartono dengan kekayaan 8,1 miliar dolar AS [Rp107,38 triliun]. Pengusaha pribumi dan seorang Muslim menempati terkaya ketiga yaitu Chaerul Tanjung dengan kekayaan 4,9 miliar dolar AS [Rp68,8 triliun]. Sisanya didominasi pengusaha WNI keturunan, merekalah motor penggerak ekonomi tanah air. Tetapi jumlah mereka juga terbatas sehingga dibutuhkan kontribusi yang lebih kaum Muslimin memunculkan pengusaha baru yang bisa mewarnai dinamika bisnis di tanah air.

 

Bunga Penghambat Wirausahawan Baru?

Keterbatasan modal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia melatarbelakangi sulitnya memunculkan calon pengusaha baru. Bagi kaum menengah ke atas, yang mempunyai cukup uang tetapi mereka terjebak kepada confort zone (zona nyaman), sehingga tidak mempunyai keberanian mengambil resiko bisnis.

Bagi mereka lebih menarik berinvestasi dalam bidang yang rendah resiko atau bahkan tidak memiliki resiko sama sekali, seperti tabungan ataupun deposito. Semakin tinggi bunga bank, maka semakin tertarik mereka mendepositokan dananya. Ketika hampir seluruh masyarakat kelas menengah terjebak confort zone, dengan mendepositokan dananya, secara tidak langsung membuat aliran dana untuk tujuan investasi di sektor riil terhambat. Di lain pihak, dana yang masuk ke bank begitu banyak maka yang bisa memanfaatkan adalah para kaum kapitalis yang sudah mapan dalam pengembangan bisnis. Dengan demikian secara tidak langsung sistem bunga akan menahan seseorang memutar uangnya di sektor riil. Ini tidak bagus dalam iklim kewirausahaan.

Memang secara alamiah, orang akan dihadapkan pada dua pilihan yang cukup rasional yaitu mendepositokan uangnya atau memutar uangnya untuk sektor riil. Tingkat pengembalian dan resiko merupakan pertimbangan utama seseorang dalam menginvestasikan uang. Jika tingkat deposito lebih menjanjikan maka ia akan memilih deposito, tetapi jika investasi di sektor riil lebih menjanjikan maka ia akan berinvestasi di sektor riil. Sebagai ilustrasi bagaimana bunga deposito memanjakan seseorang. Katakanlah si A, punya Rp100 juta, yang bisa diinvestasikan dalam sektor rill misalnya membuka rumah makan Padang atau lainnya. Tetapi datang tawaran bank, terpaksa menunda keinginan berinvestasi di sektor riil.

Mari kita buat sekenarionya. Misalnya suku bunga deposito 15 persen setahun, maka si A bisa menghasilkan uang hanya ongkang-ongkang kaki dan tanpa resiko sebesar Rp15 juta! Lumayan bukan? Bagaimana kalau suku bunga turun jadi 5 persen, maka si A masih bisa untung Rp5 juta. Sekenario terburuk adalah apabila bank hanya memberikan bunga 2 persen—tetap bisa untung Rp2 juta tanpa perlu keluar keringat.

Apakah mendapatkan Rp2 juta setahun dari uang Rp100 juta masih menarik bagi si A? Tentu saja ini tidak menarik lagi, maka langkah yang paling rasional adalah menginvestasikan dananya dalam sektor riil. Dengan membuka rumah makan Padang misalnya, maka akan langsung memberikan dampak positif bagi perekonomian. Apa dampak positifnya? Pertama, bisa mengurangi angka pengangguran. Kedua, meningkatkan daya beli konsumen. Ketiga, menciptakan penawaran atas barang dan jasa lainnya.

Sekarang kita buat simulasi, dari uang Rp100 juta terdapat tiga komponen utama untuk dialokasikan membuka usaha yaitu biaya sewa tempat, biaya tenaga kerja dan biaya operasional usaha. Jika biaya sewa tempat Rp20 juta, tenaga kerja Rp33 juta (untuk 3 orang berupah Rp1 juta per orang selama setahun), maka sisanya Rp47 juta. Dengan komposisi ini maka akan ada peningkatan daya beli konsumen Rp33 juta dan penawaran barang untuk kebutuhan usaha Rp47 juta (ini bisa melibatkan beberapa vendor dan tentunya ini juga akan menghidupkan usaha-usaha vendor tersebut). Sisanya uang sewa Rp20 juta dan ini juga akan memberikan dampak meningkatnya konsumsi bagi pemilik Ruko karena ada yang menyewa.

Simulasi ini untuk satu orang. Bagaimana kalau satu juta orang? Maka secara makro ekonomi, akan memberikan efek luar biasa. Dengan satu juta orang melakukan hal yang sama di seluruh Indonesia, maka akan terkumpul dana investasi Rp100 triliun! Dengan demikian akan ada sebanyak 3 juta pengangguran mendapatkan pekerjaan. Kemudian akan ada satu juta Ruko tersewa karena disewa, tidak kalah fantastisnya adalah akan bermunculan bisnis baru akibat banyaknya permintaan akan kebutuhan usaha senilai Rp47 triliun!

Apakah sesederhana itu? Tentu saja tidak. Namun simulasi tersebut mempelihatkan dengan jelas bagaimana dampak munculnya usahawan baru bagi perekonomian nasional ketimbang uangnya disimpan di bank. Karenanya dalam konsep ekonomi Islam menekankan pentingnya investasi sektor riil, karena pada dasarnya ekonomi Islam adalah ekonomi riil.

 

Bank Syariah Dan BMT

Setali tiga uang dengan perbankkan konvensional. Saya adalah orang yang sangat kecewa dengan kiprah perbankan syariah di tanah air. Karena dalam prakteknya mereka keluar dari cita-cita awal penggagas perbankan syariah yaitu menumbuhkembangkan wirausahawan baru dengan konsep bagi hasilnya. Kenyataannya kritikus menjuluki perbankan syariah dengan Bank Murabahah (bank jual-beli), karena aktivitasnya lebih banyak untuk kegiatan konsumtif dengan akad murabahah dari pada bagi hasil (mudhorabah ataupun musyarakah). Bahkan pola yang dikembangkan dalam menentukan mark-up murabahah dan batas laba cenderung identik dengan bank konvensional, hanya berganti nama dari bunga (riba) menjadi marjin.

Dengan dalih kehati-hatian, mereka juga menerapkan standar ganda (bahasa halusnya standar yang berbeda) dalam menghimpun dana (funding) dan menyalurkan dana (lending). Dalam hal funding mereka cenderung menerapkan akad modhorabah karena dengan konsep mudhorabah bank bisa dengan leluasa menggunakan dana nasabah untuk diputar menghasilkan keuntungan tanpa menanggung resiko sedikitpun. Tetapi saat lending, konsep yang dipakai menggunakan akad murabahah, karena keuntungan lebih besar dan sudah pasti.

Apakah salah yang dilakukan perbankan syariah tersebut? Secara prinsip tidak ada yang salah, tetapi secara substansi, ini akan sangat mencederai semangat menumbuhkembangkan usaha sektor riil. Ekonomi Islam adalah ekonomi riil, maka sudah seharusnya mereka jadi penopang utama perkembangan usaha di sektor riil. Lalu bagaimana dengan BMT (Baitul Mal wa al-Tamwil)? Sama saja! Padahal harapan terakhir bagi pengembangan usaha kecil dan menengah dalam konsep ekonomi Islam diletakkan di pundak mereka. Sekali lagi dengan dalih kehati-hatian dan perhitungan resiko bisnis, BMT juga menerapkan pola yang sama. Murabahah adalah konsep yang sangat menguntungkan bagi lembaga ini, karena keuntungan yang didapat untuk mereka semua. Jika yang diharapkan sebagai corong ekonomi Islam untuk mewujudkan terciptanya wirausahawan baru tidak bisa begitu banyak diharapkan, lalu siapa yang bisa diharapkan lagi?

 

Solusi

Ketika bunga bank dianggap satu rintangan mengembangkan munculnya wirausahawan baru, maka harus ada pendekatan baru yang memungkinkan “investor” berinvestasi di sektor riil. Begitu juga sektor perbankan terutama perbankan syariah dan BMT, mereka harus mengubah pola selama ini. Tidak mudah memang, apalagi harus menanggung resiko dan tanggung jawab sebagai sohibul mal. Namun setidaknya secara perlahan perbankan syariah dan BMT sudah mulai memberikan porsi lebih banyak untuk menerapkan konsep musyarakah dan mudhorabah dalam menyalurkan dananya. Ingatlah cita-cita awal dan semangat menumbuhkembangkan usaha kecil dan menengah dan tentunya semangat ekonomi Islam yang mendorong bisnis pada sektor riil.

Peran ulama juga sangat penting. Ulama harus mengubah mindset berdakwahnya yang selama ini cenderung menekankan kehidupan Akherat. Padahal dakwah di bidang ekonomi juga membutuhkan pencerahan ulama. Karenanya ulama harus memberikan contoh yang baik dalam menjemput rezeki dari Allah SWT. Seorang ustadz jangan hanya mengandalkan rezeki dari ceramahnya, tetapi bergeraklah dengan memulai bisnis yang bisa menopang dakwahnya.

Semoga ini bisa menjadi perhatian utama kita, kemandirian ekonomi merupakan cita-cita sangat mulia. Bagi kaum confortzonisme, tinggalkanlah riba yang selama ini membuat Anda terlena, percayalah harta hasil riba tidak akan menambah faedah di sisi Allah tetapi siksa yang pedih dari Allah SWT (QS. Albaqarah [2] : 275-281). Insya Allah dengan semangat memajukan ekonomi bangsa wabil khusus ekonomi Islam dan optimisme, kita bisa bersama mewujudkan sektor ekonomi riil yang kuat dan tangguh dengan bermunculannya para pengusaha baru.

Oleh Budi Trianto, SE, M.Si

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Islam UIN SU, Enterpreneur, Trainer Dan Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Iqra Annisa Pekanbaru.


Tags: Budi Trianto  SE  M.Si  
 

Internasional

Wirausaha Sebagai Pijar Pe...

Dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa, pemerinta...

Bayi Terpapar Narkoba...

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih...

Ulama Pemecah NKRI ?...

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah beso...

Menjerat Korupsi Lintas Ne...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional ...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada