Top Stories

Menjerat Korupsi Lintas Negara
Menjerat Tindak Pidana Korporasi
Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
NU 91 Tahun

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera Ramadhan

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Banner
NU 91 Tahun
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Thursday, 02 February 2017 06:53   
Share

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan sebagian besar penduduk Indonesia menganut Islam

Dalam perhitungan kalender tahun Hijriyah, kelahiran Jam’iyah Nahdlatul Ulama [NU] jatuh pada bulan Rajab sedang menurut penanggalan masehi. NU lahir tanggal 31 Januari 1926. Sesungguhnya tidak ada yang baru dengan kelahiran NU kecuali meresmikan terjadinya proses institusionalisasi pemikiran Islam yang didasarkan kepada konsep ahlu sunnah waljama’ah—kemudian dibakukan dalam tradisi pondok pesantren yang kemudian diberi nama Jam’iyah NU.

Sementara visi, misi dan tujuan organisasi tidak berbeda dengan pemikiran komunitas pesantren yaitu menuju kepada kejayaan Islam dan umat Islam (‘izz al islam wa al Muslimin) di Indonesia. Karena itu, NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Visi mereka terhadap keislaman adalah berpandangan bahwa Islam itu dapat dilihat pada dua unsur yaitu absolut dan relatif. Unsur absolut dari Islam adalah akidah dan ibadah yang tidak pernah berubah dan tidak akan berubah, karena itu keduanya bersifat universal. Hal ini dapat ditelusuri dengan merujuk kepada aliran mata air syari’at (syuhud ‘ain al syari’at).

Sebagai kelanjutan dari dua unsur di atas maka keabsolutan ajaran Islam juga berkenaan dengan sumber ajaran dan filosofinya. Sumber ajaran Islam terdapat ada dua pokok yaitu Al Qur’an (wahyun matluw) dan Hadis (wahyun ghairu matluw). Sebagai pelanjut dari misi risalah Nabi Muhammad SAW dilakukan oleh para sahabat. Sahabat adalah orang-orang yang terpandang dengan segala kesungguhan dan bekerja keras melanjutkan misi risalah itu dengan misi ri’ayahmelalui berbagai kegiatan tablig ke seantero penjuru bumi. Keberhasilan mereka melaksanakan misi ri’ayah melalui berbagai kegiatan tablig menyebabkan Islam telah menyebar ke tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropah waktu itu dalam waktu yang terbilang singkat yaitu tidak sampai satu abad.

Hal itu tentulah menimbulkan pertanyaan bagi generasi kemudian apa yang menyebabkan terjadinya penyiaran yang berlangsung dengan cepat itu. Di samping sikap para muballigdengan cara yang santun memasuki wilayah sosial yang demikian rumit, mereka juga dengan sangat hati-hati memperkenalkan ajaran baru serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memahami, menghayati serta melaksanakan ajaran baru sesuai dengan kemampuan masyarakat. Akibatnya, memang dalam akidah dan ibadah tetap tidak terjadi perubahan sekalipun proses internalisasinya berlangsung secara bertahap. Terkadang masyarakat masih terikat memorinya dengan tradisi lama yaitu spiritualisme yang bernada animisme dan dinamisme.

Demikian juga tradisi hinduisme dan budisme masih kuat berperan di dalam masyarakat. Hal itu kemudian menjadi penyebab terjadinya tumpang tindih antara kepercayaana lama dengan ajaran agama yang baru yaitu Islam yang dilukiskan Clifford Geertz dengan sebutan Agama Jawa. Tetapi secara bijak mereka dituntun oleh para muballig melakukan adaptasi Islam terhadap budaya lokal. Strategi lain adalah memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana penerjemahan ajaran Islam. Hal itu kemudian membentuk pemahaman mereka terhadap agama baru yang kemudian mereka sadari bahwa ahal itu sesungguhnya sebagai milik mereka yang asli.

Karena itulah proses transformasi dari kepercayaan lama kepada ajaran yang baru tidak mengakibatkan terjadi berbagai kejutan budaya akan tetapi berlangsung secara alamiah dalam kehidupan sehari-hari. Akibat dari proses perubahan yang terjadi secara radikal namun dalam suasana yang lunak maka muncul berbagai variasi keislaman yang dipahami serta menyatu dalam kehidupan masyarakat.

Para penganjur Islam dengan sabar mengikuti proses peleburan tradisi lama kepada ajaran yang baru. Tidak tertutup kemungkinan, terjadi proses tawar menawar ketika berlangsung pelarutan ajaran lama kepada Islam. Karena itu muncul ungkapan di pesantren memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu yang lebih baik lagi (al muhafazat ‘ala al qadim al shalih wa alkhdz bi al jadid al ashla). Apabila diukur menurut kondisi sekarang yang menggunakan pola pendekatan puritanisme, tentu saja hal itu dilihat sebagai kelemahan strategi karena dakwah dianggap terlalu membuka ruang toleransi terhadap kepercayaan lama. Tetapi apabila persoalan itu dipahami sesuai dengan setting situasi pada waktu itu, tentulah hal tersebut dinilai sebagai keberhasilan dakwah yang luar biasa.

Dan tentu saja, proses tawar menawar itu hanya berlangsung dalam wilayah pranata sosial bukan menyangkut akidah dan ibadah. Dari pengamatan penulis setelah berkunjung ke berbagai daerah di berbagai kepulauan nusantara, berbagai fenomena itu muncul. Dan pola itulah kemudian yang dikenal dengan sebutan Islam Nusantara. Demikianlah kelahiran NU pada 91 tahun yang lalu diwarnai oleh berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan sebagian besar penduduk Indonesia menganut Islam. Sekarang ini sering muncul keluhan dari sementara pihak bahwa tipe Islam yang terdapat dalam masyarakat barulah berada pada tataran Islam Budaya belum masuk kepada Islam Ajaran. Kegerahan ini tidak harus diterima sebagai nada pesimisme akan tetapi sebagai ungkapan rasa cemburu terhadap perjalanan kesejarahan Islam Nusantara.

Memasuki era baru kepemimpinan Islam selayaknya umat Islam mulai melakukan penafsiran ulang terhadap perkembangan keislaman di Indonesia. Warga NU baik yang tergolong jama’ah maupun jam’iyah telah menempati posisi sebagai mayoritas di Indonesia. Akan tetapi patut dipertanyakan kontribusi mereka untuk terus mendorong tumbuhnya iklim pemikiran keislsman yang dinamis, kreatif dan inovatif. Janganlah hendaknya terus berkutat pada rasa kebanggaan terhadap masa lalu. Diperlukan untuk membangun kesadaran baru terhadap ke-NU-an sebagai berikut.

Pertama, umat Islam hendaklah berpikir dalam spektrum berjangka panjang yaitu dengan meneladani sikap dan metode para penganjur Islam masa lalu yang berhasil melakukan perubahan etos kerja masyarakat menuju etos kerja yang islami. Kedua, umat Islam harus selalu menampilkan suasana kedamaian karena keberhasilan Islam menyusup jauh (penetration pacifique) ke dalam jantung setiap warga masyarakat adalah bukan melalui pola berpikir hitam-putih akan tetapi selalu membuka ruang dialog untuk membuka peluang pemahaman yang baru. Kedamaian mencakup terhadap sesama Muslim dan juga kepada masyarakat bukan Muslim.

Ketiga, adanya umat lain di luar komunitas Muslim adalah saudara sesama anak bangsa, karena itu harus dibangun berbagai kerjasama kemanusiaan guna memperkuat pembangunan Indonesia di masa depan. Keberadaan umat yang bukan Muslim bukanlah musuh akan tetapi merupakan rekan dialog untuk berjalan bersama-sama melaksanakan pembangunan menuju kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.

Berdasar pada uaraian di atas, maka warga NU diharapkan menjadikan anggapan sementara pihak pengamat yang menuduh NU hanya sebagai pemelihara tradisi semata akan tetapi juga membuka ruang kepada inovasi dan pembaruan. Selanjutnya, selalu berupaya berpikir dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam dalam lingkaran geografis dan budaya yang didasarkan pada ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah.

Oleh M Ridwan Lubis

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Tags: M Ridwan Lubis  
 

Internasional

Wirausaha Sebagai Pijar Pe...

Dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa, pemerinta...

Bayi Terpapar Narkoba...

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih...

Ulama Pemecah NKRI ?...

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah beso...

Menjerat Korupsi Lintas Ne...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional ...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada