Top Stories

Menjerat Korupsi Lintas Negara
Menjerat Tindak Pidana Korporasi
Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
NU 91 Tahun

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera Ramadhan

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Banner
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Friday, 03 February 2017 08:19   
Share

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu. Kami akan proses secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap, katanya

Seperti yang banyak dikemukakan para pengamat serta juga dirasakan masyarakat, Ahok dibenci bukan karena ia menyandang double minority, turunan China dan beragama Kristen Protestan. Kebencian terhadap mantan Bupati Belitung Timur ini justru timbul akibat perbuatan, ucapannya yang tidak beretika maupun tindakannya yang sering menunjukkan arogansi, ingin menang sendiri, tidak suka dikritik serta temperamental.

Memang selama masa kampanye Pilgub DKI dan ketika ia juga menjalani cuti kampanye terlihat seperti ada perubahan pada sikapnya. Ada kesan ia lebih santun, tidak meledak-ledak dalam berbicara dan juga mulutnya lebih terkontrol sehingga tidak berhamburan kata-kata berupa jenis-jenis hewan yang dipelihara di kebun binatang. Namun terhadap sikapnya yang demikian banyak orang yang menengarai bahwa perubahan sikapnya itu hanyalah sementara. Karena ia butuh suara untuk memenangkan kontestasi menuju Balai Kota Jakarta—ia harus terlihat santun dan manis. Kalau dia kembali meraih tahta gubernur sikap aslinya akan muncul lagi.

Ternyata anggapan tersebut benar. Jangankan menunggu duduk kembali di Balai Kota malahan pada 31 Januari 2017 sikap arogannya tersebut muncul lagi. Selasa kemarin digelar lagi sidang peradilan ke-8 untuk mengadili Ahok sehubungan kasus penistaan agama yang dilakukannya. Pada sidang ini, oleh Jaksa Penuntut Umum dihadirkan KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sebagai saksi fakta. Kesaksian ini perlu karena tanggal 11 Oktober 2016, MUI mengeluarkan fatwa yang menyebut ujaran Ahok di Kepulauan Seribu tentang Al Maidah 51 merupakan tindakan penistaan terhadap ayat suci Alquran dan penghinaan terhadap ulama dan ummat Islam.

Dengan fatwa MUI tersebut muncullah protes umat Islam terutama melalui Aksi Bela Islam I, II dan III yang diorganisir dan dikoordinir oleh Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF-MUI). Muncul kesan yang kuat pada persidangan tersebut Ahok beserta pengacaranya ingin membuktikan bahwa terbitnya fatwa MUI tersebut bukan semata berasal dari MUI tetapi karena adanya desakan dari pihak lain.

Kemudian Ahok dan pengacaranya juga ingin menunjukkan adanya hubungan antara KH Ma' ruf Amin dengan SBY yang antara lain menonjolkan fakta semasa pemerintahan SBY, KH Ma'ruf Amin diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Suasana persidangan semakin hangat ketika Ahok/pengacaranya mencecar Ma' ruf Amin tentang adanya hubungan telepon dengan SBY yang intinya adanya permintaan SBY agar pasangan Agus/Sylvi didukung dan dapat diterima oleh Ma'ruf Amin.

Ketua Umum MUI Pusat itu membantah adanya hubungan telepon dimaksud. Di sinilah muncul arogansi Ahok. Ahok dengan lantang berkata, “saya berterima kasih, saudara saksi ngotot di depan hakim bahwa saksi tidak berbohong. Kami akan proses secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap”. Ahok mengatakan juga pengacaranya memiliki bukti tentang adanya hubungan telepon antara SBY dengan Ma'ruf Amin pada 2 Oktober 2016.

Sangat jelaslah betapa sombongnya Ahok oleh karena ulama sepuh berusia 74 tahun itu tidak mengakui adanya pembicaraan teleponnya maka mantan Bupati Belitung Timur itu akan mengadukannya. Selanjutnya tidak terlihat relevansi pertanyaan Ahok tersebut dengan substansi perkara. Sebagai Ketua Umum MUI Pusat yang menandatangani fatwa 11 Oktober 2016 telah menjelaskan proses, alur piker, dasar hukum sehingga terbitnya fatwa. Lalu apa hubungannya Ma'ruf Amin dicecar dengan pertanyaan mengenai hubungan teleponnya dengan presiden dua periode itu.

Kalimat Ahok yang mengancam akan memproses Ma'ruf Amin itulah yang kemudian memunculkan reaksi keras umat Islam. Umat Islam menilai kata-kata Ahok yang arogan tersebut telah menghina Ketua Umum MUI serta menghina ulama. Ahok sepertinya gagal paham bahwa umat Islam di republik ini sangat menghormati dan menghargai ulama. Ahok mungkin tidak tahu bagaimana takzimnya masyarakat menyalami dan mencium tangan ulamanya. Ahok mungkin tidak pernah tahu banyak anggota masyarakat datang dari jauh hanya untuk menemui ulama dengan maksud untuk memperoleh berkah. Ahok mungkin ridak sadar bahwa umat Islam selalu menunggu arahan dan bimbingan dari para ulamanya. Dan juga apakah Ahok sadar dan tahu bahwa KH Ma'ruf Amin tidak hanya Ketua Umum MUI Pusat tetapi juga adalah Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Hal lain yang menarik tentang ancaman Ahok tersebut ialah pernyataannya bahwa pengacaranya punya data tentang pembicaraan SBY dengan Ma'ruf Amin dan juga mengetahui isi pembicaraan. Tentulah kita mengartikan pengacara Ahok telah menyadap telepon Ma'ruf Amin. Pertanyaannya apa hak dan kewenangan yang dimiliki pengacaranya menyadap pembicaraan orang lain melalui telepon. Bukankah yang boleh melakukan penyadapan itu instansi yang diberi kewenangan oleh undang-undang seperti KPK, Kejaksaan Agung, Polri dan juga BIN.

Berkaitan dengan penyadapan atau perekaman pembicaraan masih segar dalam ingatan kita kasus "Papa Minta Saham" yaitu pembicaraan antara Setya Novanto, Riza Chalid dan Direktur PT Free Port Indonesia Ma 'ruf Syamsuddin. Secara diam-diam rupanya Ma' ruf Syamsudin merekam pembicaraan tersebut yang kemudian disebarkan ke publik. Akibatnya Setya Novanto diadili oleh Mahkamah Kehormatan Dewan yang berujung kepada pengunduran diri Setnov sebagai Ketua DPR RI. Dalam perkembangan berikutnya Setnov berhasil lagi meraih kursi Ketua DPR RI.

Terhadap rekaman maupun penyadapan pembicaraan oleh orang lain maka Setya Novanto mengajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi tentang sebagian pasal yang ada pada Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Inti dari putusan MK ialah tidak semua orang bisa melakukan penyadapan. Pemberlakuan penyadapan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu atas permintaan penegak hukum sebagaimana diatur dalam UU ITE. Dengan demikian jelaslah perbuatan pengacara Ahok yang melakukan penyadapan adalah tindakan ilegal.

Kemarin 31 Januari Ahok mempertontonkan lagi arogansinya dan seharusnya dia sadar ucapan pada sidang pengadilan itu telah memunculkan amarah pada umat Islam. Benarlah kata orang, musuh terbesar Ahok bukanlah orang lain tapi justru dirinya sendiri.

Oleh Afifuddin Lubis

Penulis adalah Ketua PW NU Sumut, Mantan Pj.Wali Kota Medan.

 



Tags: Afifuddin Lubis  
 

Internasional

Wirausaha Sebagai Pijar Pe...

Dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa, pemerinta...

Bayi Terpapar Narkoba...

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih...

Ulama Pemecah NKRI ?...

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah beso...

Menjerat Korupsi Lintas Ne...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional ...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada