Top Stories

Menjerat Korupsi Lintas Negara
Menjerat Tindak Pidana Korporasi
Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?
Ahok Ancam Ketua MUI Pusat
NU 91 Tahun

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Lentera Ramadhan

Bayi Terpapar Nar...

Seorang anak bahkan bisa terpapar N...

Ulama Pemecah NKR...

Mohon WNI yang beragama Islam sadar...

Menjerat Korupsi ...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya...

Menjerat Tindak P...

Tidak hanya pada law in the books, ...

Banner
Ulama Pemecah NKRI ?
Articles | Opini
Written by muhammad faisal on Saturday, 04 February 2017 10:54   
Share

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apakah kita presiden, menteri, jenderal, ulama, dsb, cintailah Alquran, bela-lah Alquran dari orang-orang yang menistanya

Belakangan ini semakin santer, ulama dianggap pemecah persatuan NKRI, merusak Bhineka Tungal Ika dan menodai Pancasila. Pendapat ini harus dibantah dan ditolak dan ini merupakan fitnah dan pembohongan publik.Yang mengatakan dan menuduh itu tidak berpikir jujur dan rasional dan tidak argumentatif. Mereka hanya melihat ujung,tidak melihat pangkalnya, tidak melihat akar permasalahannya, mengapa terjadi kegaduhan yang sekarang ini.

Memang belakangan ini, gencar gerakan umat Islam dipelopori ulama, membela Alquran terhadap perbuatan orang yang menodainya, menghinanya. Dan itu terjadi, adalah sebagai reaksi atas adanya aksi (usaha) memburukkan Alquran dan ulama oleh ucapan Ahok. Maka tuduhan itu tidak jujur, menuduh umat Islam dipelopori ulama sebagai pemecah persatuan, merusak NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Mereka lupa atau menyembunyikan akar permasalahannya yang menimbulkan semua gejolak ini. Sesungguhnya itu akibat atas ucapan Ahok yang menuduh Alquran surat Al-Maidah 51 itu digunakan ulama untuk membohongi umat Islam.

Ulama tidak membohongi umat, justru QS Al-Maidah 51 itu menyuruh, mewajibkan ulama menyampaikan atau mendakwahkannya pada umat Islam yang tidak boleh orang Islam memilih pemimpinnya dari golongan kafir. Ulama tidak membohongi umat. Ulama memunyai jasa pada umat, pada NKRI pada Pancasila rela mengorbankan jiwa raganya demi membelanya.

Sejarah menjadi saksi ketika menghadapi tentera Belanda yang terdengar pekikan Allahuakbar oleh pasukan Hisbullah, Alwathan, dsb. Maju pantang mundur. Maju pantang mundur dengan tekad merdeka atau mati bersedia mati syahid demi menegakkan NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dan Sumpah Pemuda.

Dengan bermodalkan bambu runcing, diikuti dengan tetesan darah dan doa, rela mati syahid demi menegakkan NKRI. Maka apa yang mereka kerjakan sekarang adalah sebagai reaksi dari orang-orang yang ingin menista Alquran dan merusak NKRI. Bukan memecah persatuan. Justru ucapan Ahoklah yang memecah persatuan, sehingga timbul situasi sekarang ini yang semakin gawat.

Kenapa Harus 46 Saksi?

Oleh Kapolda DKI Jakarta dinyatakan dan kenyataan pada sidang perkara dugaan penistaan Alquran, QS Al-Maidah 51 oleh Ahok, akan dipersiapkan 46 saksi. Timbul pertanyaan, kenapa harus sampai 46 saksi? Biasanya satu perkara pidana diperlukan di antaranya bukti, pelaku, korban, alat digunakan pelaku, tempat terjadinya, saksi, dsb.

Biasanya duaalat bukti sudah cukup menjadi sarat untuk membuktikan si pelaku bersalah (pidana). Sebagai bukti pelaku: sudah diakui oleh Ahok ucapannya itu. Sebagai bukti ucapannya: ada rekamannya. Sebagai bukti korban: Pendapat MUI bahwa ucapan Ahok itu telah menista/menodai QS Al-Maidah 51 dan ulama.Sebagai buktitempat kejadian : Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Semua bukti lengkap.

Membuat menyiapkan 46 saksi, dipertanyakan apa maksudny ? Apakah akan membuat agar hasil vonis hakim ringan, misalnya 3 tahun? Rasionalnya, seandainya terjadi hasil persidangan, 26 saksi memberatkan tuduhan penistaan oleh Ahok, tapi 20 saksi menolak tuduhan penistaan oleh Ahok. Maka hakim akan memutuskan tiga tahun penjara. Berakibat Ahok masih berkesempatan untuk menjadi Gubernur DKI. Dimana bila hakim memvonis 5 tahun penjara, maka kesempatan Ahok jadi Gubernur DKI batal. Apakah agar fonis kira-kira 3 tahun ini yang diharapkan?

Hal ini telah terjadi, dimana ketika pemeriksaan di tangan Polisi, maka saksi 14 orang, sehingga yang memberatkan tuduhan penistaan oleh Ahok hanya beda tipis dengan yang meringankan tuduhan. Sehingga menjadi argumentasi untuk hakim memvonis Ahok (P21) sebagai tersangka ringan dan tidak perlu ditahan (hal perbedaan tipis ini ada diucapkan Kapolri sebagai alasan untuk tidak menahannya karena Ahok tersangka ringan). Mencekal Ahok tidak melarikan diri keluar negeri tidak rasional, karena ia ingin mengikuti Pilkada.

Pendapat MUI sebagai mewakili pendapat umat Islam apakah belum cukup sebagai bukti adanya penistaan itu? Penistaan itu adalah relatif, bergantung pada apakah yang menilai itu orang Islam atau tidak. Atau apakah kecintaannya pada Alquran tipis. Buktinya, Salman Rushdy yang menuduh Alquran itu adalah ayat-ayat Setan, di Inggris dia tidak dituntut. Tapi negara yang penduduknya mayoritas Islam (Iran, Pakistan, Indonesia, Malaysia, dll) mengejarnya untuk diadili sebagai penghinaan.

Westerling di Indonesia divonis sebagai penjahat perang, sebaliknya di negeri Belanda dia dianggap sebagai pahlawan. Begitu juga Alquran, bagi orang yang mencintai Alquran ucapan Ahok dianggap penghinaan, penistaan Alquran, bagi orang yang tidak mencintai Alquran, ucapan Ahok itu dianggap biasa-biasa saja.

Saksi Lurah Kepulauan Pramuka, (Kepulauan Seribu) menyatakan dimana semula ia tidak tau ucapan Ahok terhadap QS Al-Maidah 51 itu menodai Alquran dan Ulama. Karena katanya tidak ada kemampuan saya membahas Alquran. Ini satu bukti ucapan Ahok terhadap QS Al-Maidah 51 telah menodai Alquran tentu bagi orang yang memahami Alquran.

Jadi tidaklah bisa kita ambil saksi (Lurah kepulauan Pramuka) dari orang yang tidak mendalami Alquran. Kita katakan pada ayah seorang anak “bodoh, tidak punya otak”, perasaan terhinanya atau penghinaan dari ucapan itu adalah diterima semua orang sebagai hal yang objektif. Tapi penghinaan terhadap Alquran akan dirasakan hanya pada orang yang mencintai Alquran. Jadi mengambil saksinya harus khusus atau beda.Jadi MUI sebagai saksi yang menyatakan ucapan Ahok sebagai penghinaan, sudah cukup. Mengambil orang yang tidak mencintai, tidak mengerti Alquran adalah keliru untuk mendapat pendapat yang objektif.

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apakah kita presiden, menteri, jenderal, ulama, dsb, cintailah Alquran, bela-lah Alquran dari orang-orang yang menistanya. Alquran adalah wahyu Allah SWT. Wahyu Allah SWT dihina apakah Anda tidak bela?

Bagaimana Anda akan sayangi Allah SWT? Kegaduhan atau keresahan persatuan umat yang semakin meningkat belakangan ini, akan tidak terjadi dan lenyap bila Ahok ditindak bersalah dan dipenjarakan. Membiarkannya berlarut-larut, berarti membiarkan bom waktu, yang sewaktu-waktu meledak dahsyat memporak-porandakan NKRI.

Oleh dr Arifin S. Siregar.

Penulis adalah Dokter Spesialis


 

Internasional

Wirausaha Sebagai Pijar Pe...

Dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa, pemerinta...

Bayi Terpapar Narkoba...

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih...

Ulama Pemecah NKRI ?...

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah beso...

Menjerat Korupsi Lintas Ne...

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional ...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada