Top Stories

DPRDSU Sepakat Bentuk Tim Khusus
Oknum Pejabat Resahkan Pemilik Usaha
Poldasu Tangkap Pembobol ATM
Umat Islam Beribadah Dalam Gelap
Kabinet Kerja Tidak Kondusif Menteri Saling Ungkap Borok

Opini

Penumpang Sipil Tidak Dapat Asuransi

MEDAN (Waspada): Para korban Hercules C130 yang berstatus prajurit TNI beserta keluarganya dipastika...

Pedagang Pasar Induk Ancam Unjukrasa

MEDAN (Waspada): Pedagang Pasar Induk di Kelurahan Lau Cih, Kec. Medan Tuntungan, mengancam akan kem...

DPRDSU Sepakat Bentuk Tim Khusus

MEDAN (Waspada): Komisi A DPRD Sumut mengaku mendukung hasil yang disepakati  pada pertemuan Komisi ...

Oknum Pejabat Resahkan Pemilik Usaha

MEDAN (Waspada): Ada saja aksi oknum pejabat di jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Medan menjelang leba...

Poldasu Tangkap Pembobol ATM

MEDAN (Waspada): Subdit III/Umum Dit Reskrimum Polda Sumut meringkus dua pelaku pembobol Anjungan Tu...

Umat Islam Beribadah Dalam Gelap

MEDAN (Waspada): Sama seperti tahun sebelumnya, suasana bulan suci Ramadhan di Kota Medan dan sekita...

Kabinet Kerja Tidak Kondusif Menteri Saling Ungkap Borok

MEDAN (Waspada): Pengamat hukum tata negera dari Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Faisal Akbar me...

Mimbar Jumat

Penumpang Sipil T...

MEDAN (Waspada): Para korban Hercul...

Pedagang Pasar In...

MEDAN (Waspada): Pedagang Pasar Ind...

DPRDSU Sepakat Be...

MEDAN (Waspada): Komisi A DPRD Sumu...

Oknum Pejabat Res...

MEDAN (Waspada): Ada saja aksi oknu...

Lentera

Penumpang Sipil T...

MEDAN (Waspada): Para korban Hercul...

Pedagang Pasar In...

MEDAN (Waspada): Pedagang Pasar Ind...

DPRDSU Sepakat Be...

MEDAN (Waspada): Komisi A DPRD Sumu...

Oknum Pejabat Res...

MEDAN (Waspada): Ada saja aksi oknu...

Lentera Ramadhan

Penumpang Sipil T...

MEDAN (Waspada): Para korban Hercul...

Pedagang Pasar In...

MEDAN (Waspada): Pedagang Pasar Ind...

DPRDSU Sepakat Be...

MEDAN (Waspada): Komisi A DPRD Sumu...

Oknum Pejabat Res...

MEDAN (Waspada): Ada saja aksi oknu...

Banner
Thariqat Prof Kadirun Yahya Manajemen Moderen Persulukan
Articles | Medan
Written by Wantana on Thursday, 26 August 2010 03:53   
Share

LANGKAH kaki membawa kami menyinggahi masjid di kompleks kampus yang cukup nyaman dan luas. Jumatan itu pengunjung masjid sangat banyak, bahkan melimpah. Saya perkirakan mencapai seribuan orang. Masjid Jami' Darul Amin (MJDA) kompleks Universitas Panca Budi Jl.Gatot Subroto Medan. Ini kali pertama saya shalat di tempat ini, ada rasa agak berbeda.

Usai shalat, seorang pengurus masjid mengeluarkan pengumuman melalui pengeras suara. ‘’Diimbau kepada bapak-bapak, saudara-saudara yang bukan peserta thariqat untuk keluar dari ruangan utama masjid. Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih,’’ kata suara pengumuman itu.

Sebagian orang keluar masjid, sebagian besar lainnya masih di dalam. Tidak berapa lama, semua jendela kayu dan pintu-pintu yang sebelumnya terbuka lebar ditutup dan dikunci dari dalam. Beberapa saat senyap sebelum terdengar seperti suara gamelan kecil yang dipukul empat atau lima kali. Menyusul kemudian suara dari pengeras suara membaca penggalan ayat suci Alquran. Lantas senyap lagi.

Kalau saya tak salah hitung, kesenyapan itu berlangsung sekira 30 menit. Tak lama suara dalam bahasa Arab kembali terdengar melalui pengeras suara. Mungkin ini sebagai penutup ritual pasca Jumatan itu sebelum semua pintu yang tertutup dibuka kembali. Ratusan orang kemudian bergegas keluar masjid menuju bangunan yang memiliki kamar-kamar berkelambu yang posisinya persis di samping kanan masjid. Banyak anak-anak muda di antara mereka.

Saya coba tanya kepada bagian informasi di sudut kanan belakang masjid. Ada tiga anak muda yang tengah mengotak-atik komputer di sana, seperti halnya pada bagian-bagian lain yang banyak diisi oleh anak muda juga. ‘’Wah, saya tidak berwenang menjawab pertanyaan bapak-bapak. Nanti coba saya tanyakan dulu,’’ katanya menjawab pertanyaan saya dengan sopan.

Sepertinya aturan tentang arus informasi di tempat ini cukup ketat. Di sebuah dinding tertulis pengumuman yang intinya informasi menyangkut tempat itu diberikan melalui bagian informasi. Tidak berapa lama si pemuda tadi kembali lagi dan dia membawa kami ke seorang pria paruh baya berkacamata dan berambut putih.

Ada kesan protektif yang singgah ke pikiran saya saat pertama kali berjumpa dengan orang itu. Dia adalah Febru Winaro, pengurus II masjid. Namun begitu dia menjawab dan bercerita tentang keberadaan kampus, masjid dan aktifitas di tempat itu, khususnya selama Ramadhan.

‘’Ada sekitar 400 orang yang suluk di sini,’’ katanya. Rupanya mereka yang tadi melakukan ritual ba’da Jumat itu adalah orang yang sedang suluk Thariqat Kadirun Yahya. Saya mulai mahfum, bahwa kegiatan setelah Jumat tadi adalah semacam tawajjuh atau berzikir memuja Allah SWT.

Pembicaraan dengan pengurus masjid ini menjadi semakin menarik karena ternyata persulukan di tempat ini adalah tempat thariqat dengan manajemen moderen, tidak terkesan tradisional. Tidak ada pakaian khusus seperti baju gamis ataupun sorban, bahkan ada yang hanya mengenakan T-Shirt.

‘’Selain di Medan sebagai pusatnya, kami sudah memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia,’’ kata Febru. Seperti terlihat, bahkan manajemen di sini juga sudah memiliki kampus dan sekolah yang cukup representatif. Ada beberapa fakultas di Perguruan Panca Budi itu, ada juga jenjang pendidikan dari mulai TK sampai SMU, bahkan ada sekolah berstandar khusus.

Hal inilah yang menarik bagi saya. Karena semua infrastruktur itu dibangun dari sebuah aktifitas thariqat sejak tahun 1955. Pengelolaannya menggunakan manajemen moderen dengan anak-anak muda sebagai ujung tombaknya. Seketika menepis kesan mistis yang sering melekat dalam aktifitas tasawuf seperti thariqat. Para pengurus, juga mursyid di tempat ini adalah orang-orang terdirik penyandang gelar akademis.

‘’Awalnya dibangun TK untuk anak-anak peserta thariqat di sini. Tapi lama kelamaan terus berkembang sampai seperti sekarang ini,’’ kata Febru. Dia juga mengaku bahwa pihaknya tidak terlalu gencar melakukan promosi, hanya berkembang dari mulut ke mulut saja. ‘’Almarhum (Prof Kadirun Yahya, red) mungkin tidak menyangka akan bisa sampai sebesar ini,’’ katanya. Bagi saya ini cukup beralasan, karena hampir sepuluh tahun lalu selama sekitar 1,5 tahun saya bertugas sebagai wartawan kampus, sepertinya tidak pernah mempublikasikan informasi dari kampus ini.

Bangunan bertingkat yang represetatif beserta berbagai fasilitas yang ada di sana plus ribuan mahasiswa dan siswa yang belajar di tempat itu semuanya ada di bawah manajemen thariqat. Mursyid sebagai pemimpin thariqat adalah top manajemen di tempat itu.

Banyak orang yang datang dari berbagai daerah untuk ikut thariqat, banyak juga anak muda yang ingin belajar mereka disebut Anshor. Tidak sedikit anak muda yang datang dari kampungnya ingin belajar tapi tidak punya uang. Umumnya mereka ditampung di tempat itu, sebagian mereka adalah anak-anak muda yang bekerja di sana. ‘’Jumlahnya sekarang sekitar 150 orang, ada asramanya di sebelah belakang sana. Sebagian besar mereka belajar di sini,’’ katanya. Biayanya ditanggung oleh yayasan tersebut.

‘’Apakah selama perjalanan thariqat ini ada masalah yang muncul,’’ tanya saya. ‘’Tidak ada, selama ini baik-baik saja,’’ katanya. Tetapi kemudian pernyataannya itu diinterupsi oleh adanya fatwa sesat yang disampaikan ulama Aceh terhadap thariqat ini.

Saya kemudian jadi mengerti akan sikap protektif yang tadi ditunjukkan pengurus masjid ini. Karena rupanya berita tentang fatwa sesat itu disiarkan melalui Harian Waspada tahun lalu. ‘’Itu pernyataan yang tidak melalui konfirmasi,’’ kata Febru.

Menurutnya, mungkin ada murid dari thariqat di sini yang kemudian memiliki pemahaman agak berbeda. Itu kemudian yang dijadikan dasar mengeluarkan fatwa sesat oleh ulama Aceh. ‘’Seharusnya-kan dikonfirmasi ke sumbernya langsung,’’ katanya. Padahal, sambungnya, pihaknya selama ini tidak ada masalah soal thariqat yang diajarkan, termasuk dengan MUI. ‘’Kita tidak ada masalah dengan MUI,’’ tegasnya.

Dia kemudian menjelaskan, di tempat ini ada tiga hal yang diajarkan, pertama thariqat itu sendiri kedua tauhid dan akhlak. Jadi, tidak bisa menempuh jalan thariqat saja dengan meninggalkan tauhid dan akhlak. ‘’Ketiganya harus berjalan seiring,’’ tegasnya. Tentu saja. Tidak mengherankan jika ketiganya benar-benar berjalan seiring, kemudian menciptakan sebuah organisasi besar seperti ini.(m12)

 

Internasional

DPD RI: Cegah Kerusakan Li...

MEDAN (Waspada): Komite II DPD RI meminta pemerintah ...

Penumpang Sipil Tidak Dapa...

MEDAN (Waspada): Para korban Hercules C130 yang berst...

Pedagang Pasar Induk Ancam...

MEDAN (Waspada): Pedagang Pasar Induk di Kelurahan La...

DPRDSU Sepakat Bentuk Tim ...

MEDAN (Waspada): Komisi A DPRD Sumut mengaku mendukun...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada