Top Stories

Menelusuri Kesahihan Hadis Doa Berbuka Puasa
Perlunya Tasawuf Qurani
Memaknai Seruan Alquran Kepada Orang Mukmin Berpuasa
Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya’ban
Iri Dengki Penghapus Amal Kebaikan

Opini

Tasawuf & Kehampaan Spiritual Manusia Modern

Tasawuf Itu Muncul Sebagi Gerakan Moral Dalam Rangka Menyempurnakan Akhlak Manusia Dengan Cara P...

Kata Alquran : "Berpuasalah dengan Ilmu"

…Puasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: aZ184). Selama ini...

Menelusuri Kesahihan Hadis Doa Berbuka Puasa

Hasil penelusuran dari mata rantai (sanad) periwayat hadis berbuka puasa ini menyimpulkan bahwa ...

Perlunya Tasawuf Qurani

Manusia yang berjiwa sehat pendekatannya dapat dilakukan melalui bimbingan penyuluhan, pendekat...

Memaknai Seruan Alquran Kepada Orang Mukmin Berpuasa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-oran...

Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

Rasulullah SAW bersabda: Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, maka janganlah kamu berpuasa...

Iri Dengki Penghapus Amal Kebaikan

Sifat iri dengki hamper menjangkiti semua orang,kecuali orang-orang yang dirahmati Allah SWT. I...

Mimbar Jumat

Tasawuf & Kehampa...

Tasawuf Itu Muncul Sebagi Gerak...

Kata Alquran : "B...

…Puasa itu lebih baik bagi k...

Menelusuri Kesahi...

Hasil penelusuran dari mata ran...

Perlunya Tasawuf ...

Manusia yang berjiwa sehat pen...

Lentera

Tasawuf & Kehampa...

Tasawuf Itu Muncul Sebagi Gerak...

Kata Alquran : "B...

…Puasa itu lebih baik bagi k...

Menelusuri Kesahi...

Hasil penelusuran dari mata ran...

Perlunya Tasawuf ...

Manusia yang berjiwa sehat pen...

Lentera Ramadhan

Tasawuf & Kehampa...

Tasawuf Itu Muncul Sebagi Gerak...

Kata Alquran : "B...

…Puasa itu lebih baik bagi k...

Menelusuri Kesahi...

Hasil penelusuran dari mata ran...

Perlunya Tasawuf ...

Manusia yang berjiwa sehat pen...

Banner
Memahami Hakikat ‘Idul Fitri
Articles | Mimbar Jumat
Share
Tenggelamnya matahari di barat pada akhir Ramadhan, gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia sebagai isyarat mengindikasikan telah masuk 1 syawal, hari raya ‘idul fitri bagi umat Islam.

Ramadhan yang telah dijalani sebagai bulan latihan, pencerahan telah meninggalkan umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang terlihat ceria dan gembira, senyum dan penuh kebahagiaan menghiasai datangnya bulan yang penuh fitri tersebut.

Kendati demikian, tidak semua orang yang merayakan hari raya ‘idul fitri pada hakikatnya punya hak untuk ikut dalam kebahagiaan dan keindahan hari besar tersebut. Hanya mereka yang berpuasa serta beribadah pada Ramadhan saja yang berhak untuk berhari raya.

Terlepas dari mereka yang merayakan hari kemenangan, apakah berpartisifasi menegakkan ibadah atau tidak pada bulan Ramadhan. Namun, paling tidak umat Islam mesti dapat memahami hakikat ‘idul fitri itu sendiri. Dengan kata lian, ‘idul fitri itu harus diberi makna dan tindakan yang benar sehingga benar-benar punya makna.

Tidak dapat dipungliri bahwa tidak sedikit umat Islam yang memandang bahwa hari raya ‘idul fitri mesti ditampilkan dengan serba “wah”, dari sisi pakaian, rumah, mobil, dan hidangan yang serba lezat. Akhirnya yang terjadi adalah sikap saling berlomba-lomba untuk menunjukkan sesuatu yang membuat orang lain berdecak kagum.

Oleh karena orientasinya demikian, maka tidak sedikit mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh keja extra kerja keras dalam mencari pendapatan tambahan, dengan tujuan supaya dapat tampil beda dari hari yang sebelumnya.

Tapi apakah demikian cara yang dianjurkan agama untuk merayakan hari raya ‘idul fitri?. Memang semua persiapan yang dilakukan umat Islam seperti di atas pada dasarnya tidak salah.

Tapi terkadang nilai-nilai yang tercerabut atau boleh dikatakan bahwa tujuan pokok dari hari ‘idul fitri tidak tercapai sama sekali. Dalam hadisnya Rasulullah menggambarkan bahwa mereka yang berhak untuk mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan hari yang fitri bukan mereka yang punya pakaian baru sampai dua, empat, lima pasang, ataupun bahkan lebih.

Juga bukan bagi mereka yang punya mobil mewah, rumah baru, hidangan yang serba lezat dan nikmat, tapi hari raya itu diperuntukkan bagi mereka yang mencapai tingkat kepatuhan dan ketakwaannya kepada Allah semakin meningkat.

Sebelum masuk bulan Ramadhan shalatnya masih ada yang bolong, berinfak tidak pernah, suka menyakiti perasaan tetangga, dan lain sebagainya. Namun setelah Ramadhan semua sifat yang jelek itu berubah kepada yang lebih baik bahkan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Tipologi orang yang terjadi perubahan pada dirinya dari yang jelek kepada yang baik, atau orang yang sudah baik sebelumnya kemudian setelah dibina dan didik pada Ramadhan menjadi orang yang lebih baik dan taat pada hakikatnya mereka inilah yang berhak mendapatkan ‘idul fitri tersebut.

Hal ini dapat kita lihat dalam hadis Rasul yang artinya, “Bahwa hari raya ‘idul fitri bukanlah untuk mereka yang berpakaian serba dan mewah tapi idul fitri itu bagi mereka yang ketaatan dan kepatuhannya semakin meningkat”.

Hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang hanif tidak membutuhkan tampilan-tampilan luar yang serba menggoda dan menakjubkan mata. Tapi yang dimaksud adalah kesucian dan kebersihan hati menuju Allah.

Dengan kata lain, sekalipun bagi sebahagian orang merayakan hari kemenangan ini hanya dengan sederhana dan tanpa berlebihan tapi nilai ibadah mereka bagus dan kuat, maka dalam pandangan Allah itulah yang sesungguhnya.

Apabila kita cermati lebih jauh hadis di atas merupakan satu bentuk penghargaan dan apresiasi Allah bagi mereka yang kurang mampu dalam bidang ekonomi. Sebab jumlah kuantitas masyarakat yang serba berkecukupan itu lebih sedikit dibanding mereka yang serba hidup “pas-pasan atau bahkan di bawah garis kemiskinan.

Dengan persentase yang begitu kontras maka sangatlah adil sekali Allah menempatkan posisi ketaatan dan ketakwaan adalah nomor satu dari segala-galanya dari seorang hamba.

Bahkan dalam hadis lain juga disebutkan bahwa tingkat riyadah (latihan) ibadah hamba yang terus-menerus secara berkesinambungan salah satu tipe orang yang berhak merayakan hari raya ‘idul fitri. Jadi, yang menjadi sasaran dari perayaan hari kemenangan ini hanya yang benar-benar punya kesungguhan untuk tetap komit beribadah dan selalu mengagungkan asma-Nya yang agung.

Salah satu alasan yang tepat tidak lain adalah karena makna ‘idul fitri itu sendiri adalah “kembali kepada kepada fitrah (kesucian)”. Jadi, siapakah yang punya kelayakan untuk mendapatkan kesucian itu? Apakah mereka yang hanya memperindah diri, accesoris yang serba mahal.

Tentunya tetaplah mereka yang sudah membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan baik itu secara vertikal kepada Allah maupun secara horizontal kepada sesama manusia. Dan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya, maka harus dibutuhkan proses untuk dapat mencapainya.

Maka sebulan penuh pada Ramadhan adalah sarana dan wadah yang disediakan Allah bagi mereka yang mau kembali kepada yang maha suci dengan kesucian hati dan diri.

Oleh karena itu, sungguh luar biasa adil dan bijaksananya Allah yang telah menggandengkan bulan yang penuh berkah Ramadhan dengan bulan kemenangan ‘idul fitri.

Bagaimana tidak begitu arifnya Allah telah mendesig sedemikian rupa agar kiranya hambanya dapat memanfaatkan kedua bulan tersebut dalam rangka untuk mendapatkan rido dan ampunan-Nya.

Maka yang harus dipahami dengan benar bahwa jangan terlalu bangga bagi mereka yang punya kelebihan rezeki dalam menampilkan hal-hal yang mewah dalam merayakan ‘idul fitri.

Demikian juga sebaliknya bagi mereka yang hanya sederhana untuk tidak merasa berkecil hati dengan kondisi yang apa adanya. Sebab hakikat ‘idul fitri bukan terletak pada tampilan fisik tapi pada hati dan tingkat ketaatan kepada Allah.

Penutup

Hari yang fitri merupakan puncak dari sebuah riyadah (latihan) spritual yang dilakukan umat Islam selama satu bulan penuh. Hal itu dilakukan dengan harapan dapat terlahir pada ‘idul fitri fitrah (suci) kembali secara paripurna sebagaimana ketika awal terlahir dari perut ibu.

Oleh karena itu, merugilah orang yag sibuk mempercantik tampilan fisiknya namun kesucian yang menjadi hakikat ‘idul fitri tidak tercapai. ( Watni Marpaung, Ma : Dosen Fakultas Syariah IAIN SU )

 



Tags: Idul Fitri  
 

Internasional

Puasa Adalah Nikmat Yang W...

…Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) d...

Tasawuf & Kehampaan Spirit...

Tasawuf Itu Muncul Sebagi Gerakan Moral Dalam Ran...

Kata Alquran : "Berpuasala...

…Puasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu meng...

Menelusuri Kesahihan Hadis...

Hasil penelusuran dari mata rantai (sanad) periwa...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada