Top Stories

Eksotisme Pantai Kasih Pulau Weh-Sabang
Suara Merdeka & Konperensi Asia

Konperensi Asia tentang Indonesia, mendesak Dewan Keamanan dan bersidang di Luke Succes. Hasilnya membuka jalan penyelesaian pertikaian Indonesia-Belanda “Suara Merdeka Radio Rimba Raya dari Aceh” merupakan judul tulisan H. AR. Djuli dalam harian Waspada 18,19,20 Agustus 2014. Mengingat besarnya jasa radio tersebut, kami tergerak menanggapi dan menambahkan tulisan tersebut. Radio Rimba Raya muncul, justru saat RRI Jogyakarta, RRI Bukit Tinggi dan RRI Medan yang berlokasi di Pematangsiantar telah lebih dahulu dibungkamkan oleh Belanda. Radio Rimba Raya yang memunyai pemancar cukup kuat 350 watt, siarannya dapat didengar di seluruh negara Asia, Australia dan sebagian Eropa. Tampil di udara tiap malam dalam 6 bahasa dengan menggunakan signal calling “Suara Indonesia Merdeka Radio Republik Indonesia”. Radio Rimba Raya senantiasa dimonitor oleh All India Radio dan dan menanyakan hal-hal yang tidak jelas. Apalagi radio ini tampil dalam bahasa Urdu/Hudustan di samping bahasa Inggris.

Mencontoh Rasulullah SAW Berhaji

Jamaah calon haji (Calhaj) Indonesia sudah memasuki kota Makkah setelah delapan hari melaksanakan shalat Arbain di Masjid Nabawi, Madinah. Jumlahnya akan terus bertambah setiap harinya dan pada puncak haji atau mendekati hari wukuf di Padang Arafah dominasi jamaah Indonesia semakin signifikan (mencolok mata). Sayangnya, Calhaj dari Indonesia tidak tampil dalam pakaian seragamnya. Ini yang membuat dominasi Calhaj Indonesia agak kurang menonjol, baik saat di Madinah maupun di Makkah begitu juga di pusat-pusat perbelanjaan. Upaya pemerintah dalam hal ini Kemenag membuat seragam haji sepertinya kurang berhasil. Dulu pernah dibuatkan pakaian khas batik, kemudian berubah seragam hijau telur bebek, kembali ke batik lagi. Tapi, tidak semua daerah dan Calhaj melaksanakannya. Kalaupun dipakai pada hari pertama keberangkatan saja, sementara dalam kesahariannya menggunakan pakaian berbeda-beda sesuai selera masing-masing Calhaj.

Darurat Narkoba Di Kampus

Mudahnya mahasiswa terseret tindak kejahatan Narkoba tentu tidak dapat terlepas dari budaya liberal yang semakin mengakar di negeri ini.Turut berduka atas ditemukannya ganja di lingkungan kampus. Sebagaimana yang diberitakan di sejumlah media bahwa Polres Jakarta Selatan bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan ganja di area kampus Universitas Nasional (Unas). Sedikitnya ganja yang ditemukan berjumlah 3,6 kilogram. Lebih memprihatinkan lagi ketika mendengar ucapan Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat bahwa menurutnya tidak ada satupun kampus di Jakarta yang bebas dari narkotika terutama jenis ganja. Ucapan Henry tentu bukan isapan jempol mengingat beliau adalah orang yang ahli di bidangnya. Dengan adanya kasus ini LSM Granat berharap BNN mengadakan razia di berbagai kampus di Jakarta agar apa yang diyakininya bahwa tak ada kampus yang tidak bebas Narkoba itu terbukti.

Dilema Pengesahan RUU Pemilukada

Sebaik apapun sistem dibangun semua kembali pada individunya. Masyarakat Indonesia yang tidak taat hukum dapat jadi taat hukum jika berada di negara lain, walaupun jenis aturannya sama.Berbagai perubahan terus diusulkan terkait mekanisme pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) yang selama ini terus menjadi sorotan. Mulai dari barometer demokrasi maupun efektivitas hingga efisiensi anggaran dalam pelaksanaan Pemilukada secara langsung. Pembahasan ini dimulai dari barometer demokrasi. Pertama, Pemilukada langsung menjadi tolok ukur barometer demokrasi, jika yang menjadi ukurannya adalah kepala daerah dipilih langsung, namun saya juga pernah menulis di media ini sebelumnya. Dalam tulisan itu saya mengulas kualitas jumlah pemilih yang cenderung tidak berbanding dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), terlebih lagi jika diukur dengan hitung-hitungan matematika.

Opini

TVRI Sebagai Lembaga Penyiaran

Dengan menjadi lembaga penyiaran, maka gerak langkah media elektronik ini akan lebih leluasa untuk m...

Kegenitan Para Penggantang Kekuasaan

Hal yang sangat mengherankan ialah demokrasi Indonesia hanya distir bersemangat untuk penggantangan ...

Eksotisme Pantai Kasih Pulau Weh-Sabang

Eksotisme panorama wisata alam Pulau Weh Sabang membuka mata wisatawan, terutama pascaperjanjian dam...

Suara Merdeka & Konperensi Asia

Konperensi Asia tentang Indonesia, mendesak Dewan Keamanan dan bersidang di Luke Succes. Hasilnya me...

Mencontoh Rasulullah SAW Berhaji

Jamaah calon haji (Calhaj) Indonesia sudah memasuki kota Makkah setelah delapan hari melaksanakan sh...

Darurat Narkoba Di Kampus

Mudahnya mahasiswa terseret tindak kejahatan Narkoba tentu tidak dapat terlepas dari budaya liberal ...

Dilema Pengesahan RUU Pemilukada

Sebaik apapun sistem dibangun semua kembali pada individunya. Masyarakat Indonesia yang tidak taat h...

Mimbar Jumat

TVRI Sebagai Lemb...

Dengan menjadi lembaga penyiaran, m...

Kegenitan Para Pe...

Hal yang sangat mengherankan ialah ...

Eksotisme Pantai ...

Eksotisme panorama wisata alam Pula...

Suara Merdeka & K...

Konperensi Asia tentang Indonesia, ...

Lentera

TVRI Sebagai Lemb...

Dengan menjadi lembaga penyiaran, m...

Kegenitan Para Pe...

Hal yang sangat mengherankan ialah ...

Eksotisme Pantai ...

Eksotisme panorama wisata alam Pula...

Suara Merdeka & K...

Konperensi Asia tentang Indonesia, ...

Lentera Ramadhan

TVRI Sebagai Lemb...

Dengan menjadi lembaga penyiaran, m...

Kegenitan Para Pe...

Hal yang sangat mengherankan ialah ...

Eksotisme Pantai ...

Eksotisme panorama wisata alam Pula...

Suara Merdeka & K...

Konperensi Asia tentang Indonesia, ...

Banner
Makna Kesaktian Pancasila
Articles | Opini
Share
Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, sehingga semua peraturan peraturan hukum/ketatanegaraan yang bertentangan dengan Pancasila haruslah dicabut

Tepat tanggal 1 oktober, kita kembali memperingati hari yang sangat krusial bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Mungkin kini banyak yang lupa atau bahkan melupakan hari kesaktian Pancasila, sebab seiring perkembangan teknologi dan informasi yang semain pesat, kita pun seakan terbius untuk melupakan sejarah yang sangat penting sebagai wujud terbentuknya dasar negara kepulauan, Indonesia.

Peringatan Kesaktian Pancasila ini berakar pada sebuah peristiwa tanggal 30 September  1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G.30.S/PKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.

Pada saat itu setidaknya ada enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun, berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka, tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila dalam sejarah Republik Indonesia.

Pancasila tentulah mengandung nilai filosofi yang sejak dahulu telah lahir dan ditumbuhkembangkan oleh nenek moyang kita. Maka, sudah sepantasnya kita harus kembali merenungkan dan menelaah kembali sudah sejauh mana penyelenggaraan serta pencapaian bangsa dan negara ini dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai pandangan hidup

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, merupakan pedoman tingkah laku bagi warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia merupakan sari dan puncak dari sosial budaya yang senatiasa melandasi tata kehidupan sehari-hari.

Tata nilai sosial budaya yang telah berkembang dan dianggap baik, serta diyakini kebenarannya ini dijadikan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai bagi bangsa Indonesia. Sumber nilai yang terkandung tersebut yakni, (1) keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, (2) asas kekeluargaan, (3) asas musyawarah mufakat, (4) asas gotong-royong, serta (5) asas tenggang rasa.

Dari nilai-nilai inilah kemudian lahir adanya sikap yang mengutamakan kerukunan, kehormonisan, dan kesejahteraan yang sebenarnya sudah lama dipraktekkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pandangan hidup bagi suatu bangsa seperti Pancasila sangat penting artinya karena merupakan pegangan yang stabil agar tidak terombang-ambing oleh keadaan apapun, bahkan dalam era globalisasi kini yang semakin pesat melalui teknologi dan informasi muktahir.

Pancasila sebagai dasar negara negara digunakan sebagai dasar untuk mengatur  penyelenggaraan kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan hukum-keamanan. Sebagai dasar negara, Pancasila diatur dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yang merupakan landasan yuridis konstitusional dan dapat disebut sebagai ideologi negara.

Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, sehingga semua peraturan peraturan hukum/ketatanegaraan yang bertentangan dengan Pancasila haruslah dicabut. Perwujudan Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, dalam bentuk peraturan perundang-undangan bersifat imperatif (mengikat) bagi; (1) penyelenggara negara, (2) lembaga kenegaraan (3) lembaga kemasyarakatan, (4) warga negara Indonesia di mana pun berada, dan (5) penduduk di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam tinjauan yuridis konstitusional, Pancasila sebagai dasar negara berkedudukan sebagai norma objektif dan norma tertinggi dalam negara, serta sebagai sumber dari segala sumber hukum sebagaimana yang tertuang di dalam Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966, jo. Tap. MPR No.V/MPR/1973, jo. Tap. MPR No.IX/MPR/1978.

Makna Kesaktian Pancasila

Sebagai dasar negara, Pancasila tidak hanya merupakan sumber derivasi peraturan perundang-undangan. Melainkan juga Pancasila dapat dikatakan sebagai sumber moralitas terutama dalam hubungan dengan legitimasi kekuasaan, hukum, serta berbagai kebijakan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. Pancasila mengandung berbagai makna dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.

Makna yang pertama Moralitas, sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung pengertian bahwa negara Indonesia bukanlah negara teokrasi yang hanya berdasarkan kekuasaan negara dan penyelenggaraan negara pada legitimasi religius. Kekuasaan kepala negara tidak bersifat mutlak berdasarkan legitimasi religius, melainkan berdasarkan legitimasi hukum serta legitimasi demokrasi. Oleh karenanya asas sila pertama Pancasila lebih berkaitan dengan legitimasi moralitas.

Para pejabat eksekutif, anggota legislatif, maupun yudikatif, para pejabat negara, serta para penegak hukum, haruslah menyadari bahwa selain legitimasi hukum dan legitimasi demokratis yang kita junjung, juga harus diikutsertakan dengan legitimasi moral. Misalnya, suatu kebijakan sesuai hukum, tapi belum tentu sesuai dengan moral.

Salah satu contoh yang teranyar yakni gaji para pejabat penyelenggara negara itu sesuai dengan hukum, namun mengingat kondisi rakyat yang sangat menderita belum tentu layak secara moral (legitimasi moral).

Hal inilah yang membedakan negara yang berketuhanan Yang Maha Esa dengan negara teokrasi. Walaupun dalam negara Indonesia tidak mendasarkan pada legitimasi religius, namun secara moralitas kehidupan negara harus sesuai dengan nilai-nilai Tuhan terutama hukum serta moral dalam kehidupan bernegara.

Makna kedua Kemanusiaan, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” mengandung makna bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab, selain terkait juga dengan nilai-nilai moralitas dalm kehidupan bernegara.

Negara pada prinsipnya adalah merupakan persekutuan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia sebagai bagian dari umat manusia di dunia hidup secara bersama-sama dalam suatu wilayah tertentu, dengan suatu cita-cita serta prinsip-prinsip hidup demi kesejahteraan bersama.

Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan norma-norma baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap lingkungannya.

Oleh Karena itu, manusia pada hakikatnya merupakan asas yang bersifat fundamental dan mutlak dalam kehidupan negara dan hukum. Dalam kehidupan negara kemanusiaan harus mendapat jaminan hukum, maka hal inilah yang diistilahkan dengan jaminan atas hak-hak dasar (asas) manusia. Selain itu, asas kemanusiaan juga harus merupakan prinsip dasar moralitas dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara.

Makna ketiga, Keadilan. Sebagai bangsa yang hidup bersama dalam suatu negara, sudah barang tentu keadilan dalam hidup bersama sebagaimana yang terkandung dalam sila II dan V adalah merupakan tujuan dalam kehidupan negara. Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil.

Dalam pengertian hal ini juga bahwa hakikatnya manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap lingkungannya, adil terhadap bangsa dan negara, serta adil terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, segala kebijakan, kekuasaan, kewenangan, serta pembagian senantiasa harus berdasarkan atas keadilan. Pelanggaran atas prinsip-prinsip keadilan dalam kehidupan kenegaraan akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Makna keempat, Persatuan. Dalam sila “Persatuan Indonesia” sebagaimana yang terkandung dalam sila III, Pancasila mengandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk negara berupa suku, ras, kelompok, golongan, dan agama. Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi tetap satu sebagaimana yang tertuang dalam slogan negara yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Makna kelima, Demokrasi. Negara adalah dari rakyat dan untuk rakyat, oleh karena itu rakyat adalah merupakan asal mula kekuasaan negara. Sehingga dalam sila kerakyatan terkandung makna demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Maka nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam Pancasila adalah adanya kebebasan dalam memeluk agama dan keyakinannya, adanya kebebasan berkelompok, adanya kebebasan berpendapat dan menyuarakan opininya, serta kebebasan yang secara moral dan etika harus sesuai dengan prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seandainya nilai-nilai Pancasila tersebut dapat diimplementasikan sebagaimana yang terkandung di dalamnya, baik oleh rakyat biasa maupun para pejabat penyelenggara negara, niscayalah kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan secara nyata.

Terlebih lagi hingga kini kita selaku bangsa tentulah malu terhadap para pendiri negara yang telah bersusah payah meletakkan pondasi negara berupa Pancasila, sedangkan kita kini seakan lupa dengan tidak melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang sangat sakti tersebut.

Perilaku KKN, kerusuhan antar sesama warga negara, ketidakadilan dan ketimpangan sosial, berebut jabatan, perilaku asusila, serta berbagai perilaku abmoral lainnya adalah segelintir perilaku yang hanya dapat merusak nilai Pancasila itu sendiri. Kini, Marilalah kita kembali junjung tinggi nilai-nilai Pancasila agar kita tetap dipandang sebagai bangsa dan negara yang beradap, beragama, beretika, dan bermoral. ***** (Andryan, SH : Penulis adalah Pemerhati Hukum Tata Negara )

 



Tags: Pancasila  
 

Internasional

Bahaya Pendidikan Gratis...

Menarik untuk dikaji, beberapa guru menganalisis pers...

TVRI Sebagai Lembaga Penyi...

Dengan menjadi lembaga penyiaran, maka gerak langkah ...

Kegenitan Para Penggantang...

Hal yang sangat mengherankan ialah demokrasi Indonesi...

Eksotisme Pantai Kasih Pul...

Eksotisme panorama wisata alam Pulau Weh Sabang membu...

JoomlaXTC NewsPro - Copyright 2009 Monev Software LLC

Portal Harian Waspada