Top Stories

Kobayashi Lahap Puluhan Mie Goreng Dalam Tiga Menit Saja
DICARI : Foto Kelas SR 65 Medan Tahun 1963
Siswa SD Berlaga di Kejuaraan Catur Dunia
Ludes Terbakar
Pelantikan Kepala Daerah

Opini

Bayi Terpapar Narkoba

Seorang anak bahkan bisa terpapar Narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang ...

Ulama Pemecah NKRI ?

Mohon WNI yang beragama Islam sadarlah, ingatlah besok, lusa kita akan kembali pada Allah SWT. Apaka...

Menjerat Korupsi Lintas Negara

Kasus korupsi nampaknya bukan hanya masalah nasional saja tapi juga masalah internasional. Perkemban...

Menjerat Tindak Pidana Korporasi

Tidak hanya pada law in the books, pada law in action pun korporasi juga telah dijadikan subjek huku...

Setelah Akil, Patrialis, Siapa Menyusul?

Perbuatan Patrialis bisa dianggap  ‘’luar bisa’’ maka sewajarnya diganjar hukuman paling berat. Sete...

Ahok Ancam Ketua MUI Pusat

Pada sidang ke-8 kasusnya, Ahok mengancam Ketua MUI Pusat dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu....

NU 91 Tahun

Kelahiran NU 91 tahun lalu diwarnai berbagai dialog kepercayaan dan budaya sehingga menghasilkan seb...

Mimbar Jumat

Narkoba Musuh Ber...

Fuqaha Hanafiyah dan Malikiyah ...

Bulan Rajab Dan K...

Sesungguhnya bilangan bulan di ...

Kehidupan Akhirat...

Kelompok yang tidak mengimani h...

Kehidupan Akhirat...

Kelompok yang tidak mengimani h...

Lentera

Jannatul 'Adnin...

Salam dilimpahkan kepadamu Berbahag...

Tanah Palestina...

PALESTINA milik siapa? Milik Yahudi...

Shalahuddin Al-Ay...

Rakyat Palestina merindukan pahlawa...

Barakah Alhabsyi...

Seorang budak yang berkulit hitam d...

Lentera Ramadhan

Kabura Maqtan...

Dalam kehidupan sehari-hari mung...

Iman Dan Akal...

Dalam beberapa ayat Alquran, Alla...

Bulan Dakwah ...

Ramadhan juga dikenal sebagai bu...

Kaum Lahabiyyin...

Binasalah kedua tangan Abu Lah...

Banner
Articles



  • Medan

     

     

    Selamat Jalan Setia Budi Siregar

    --------------------------------------------

    Oleh Prabudi said (Pemred Waspada)

     

    Inna lillahi wa inna lillahi rajiun. Keluarga besar Waspada turut berduka cita atas berpulangnya Setia Budi Siregar pada Senin dinihari. Alm adalah putra alm H. Rahman Siregar yang pernah bekerja menjadi korektor, wartawan dan redaktur Waspada hingga akhir hayatnya pada tahun 1990an.

    Kedua ayah dan anak mempunyai kisah perjalanan hidup dan karir di Waspada. Awalnya, sekitar tahun 1970an, ayah dari Rahman Siregar, datang menemui kenalan baiknya, H.Mohammad Said pendiri Waspada di Medan untuk meminta agar anaknya itu (Rahman) dapat diterima bekerja di Waspada. Permintaan tersebut ditolak oleh HMSaid karena Waspada kala itu sedang menghadapi masa sulit keuangan mengingat oplahnya hanya sekitar seribu eksemplar per hari. Untuk bayar gaji karyawan2 yang ada saja tak cukup uang, ujar HMSaid.

    Meski ditolak, sang ayah mengulangi permintaannya sambil mengiba karena sulitnya mendapat pekerjaan pada waktu itu sedangkan dia tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan pendidikan anaknya itu. "Bekerja apa saja pun jadi," kata sang ayah. Lalu H.M.Said menerima permintaan kawannya itu dengan syarat boleh bekerja di Waspada sebagai korektor tanpa gaji. Sang ayah menerimanya dengan senang hati sambil berpesan kepada anaknya yang turut mendampinginya waktu itu "rajin2lah kau bekerja tanpa gaji."

    Ringkasnya, sang anak, Rahman Siregar bekerja sebagai korektor, yakni karyawan yang tugasnya membaca dan memperbaiki kesalahan2 ketik semua naskah berita yang diset sebelum naik cetak. Ada sekitar selama enam bulan, Rahman bekerja dengan tekun dan berhasil menimba ilmu secara otodidak dari berita2 yang dibacanya, baik berita2 lokal, dalam maupun luar negeri. Benar2 tanpa gaji dan dia mulai menerima penghasilan berupa honor berita setelah dipercayakan sebagai reporter rumah sakit dan pengadilan selama beberapa tahun. Setelah itu dia diangkat sebagai staf redaksi untuk mengedit berita2 sebelum dipercayakan menjadi redaktur penuh beberapa tahun kemudian. Jabatan terakhir alm H.Rahman adalah asisten managing editor dan meninggal dunia pada tahun 1990an akibat serangan jantung.

    Putra alm, Setia Budi Siregar kala itu masih duduk di bangku sekolah SMA dan setelah mendapat gelar S.sos  dari UMSU tahun 1997 melamar bekerja sebagai reporter Majalah Dunia Wanita sebelum diterima menjadi wartawan dan redaktur olahraga Waspada pada tahun 1999. Seperti juga ayahnya, Budi meninggal dunia Senin dinihari (27/7/15) akibat serangan jantung.

    Keluarga besar Waspada kembali berduka. Kami mengenang jasa2  alm Setia Budi sebagaimana alm ayahandanya sebagai sosok berkelakuan baik, berdedikasi tinggi dan loyal, selama pengabdiannya sama-sama 20 tahun. Kami benar-benar kehilangan. Selamat jalan adinda Setia Budi. Semoga mendapat mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT.

     

  • Mimbar Jumat
  • Tajuk
  • Sumut
  • Aceh
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Internasional
  • Agenda
  • Opini
  • Surat Pembaca
  • Kreasi
  • Foliopini
  • Al Bayan
  • Lentera
  • Lentera Ramadhan

Internasional

May Day Diperingati Di Sel...

Tanggal 1 Mei yang jatuh pada hari Senin diperingati ...

Salah Cakap, Menteri Jepa...

TOKYO, Jepang (Waspada): Menteri Jepang, yang mengawa...

Tiongkok Luncurkan Kapal ...

BEIJING, Tiongkok (Waspada): Tiongkok Rabu (26/4) mel...

PM Malaysia Akan Hadiri ...

KUALA LUMPUR, Malaysia (Waspada): Perdana Menteri Mal...

Portal Harian Waspada